Berita  

Harga LPG Non Subsidi Alami Kenaikan, Ketua DPD 2 Golkar Singkawang Minta Masyarakat Menengah Tidak Beralih

Keterangan foto: LPG non subsidi. (Istimewa)
Keterangan foto: LPG non subsidi. (Istimewa)

SINGKAWANG, infokalbar.com – Adanya tren kenaikan harga minyak dunia saat ini diduga telah berimbas pada kenaikan harga Liquefied Petroleum Gas (LPG) non subsidi isi 5 Kg dan 12 Kg di Kota Singkawang.

Tak ayal, fenomena kenaikan harga ini pun sedikit demi sedikit telah membuat masyarakat, khususnya kalangan menengah, mulai resah. 

Bagaimana tidak, kebutuhan terhadap ‘si api biru’ saat ini telah menjadi kebutuhan pokok bagi masyarakat, tak hanya bagi para ibu rumah tangga, namun juga para pedagang kecil dan menengah.

Menyikapi hal ini, Ketua DPD 2 Partai Golkar Kota Singkawang, Andi Syarif, angkat bicara. Melalui pesan WhatsApp-nya kepada wartawan Infokalbar.com, Kamis 3 Februari 2022, ia mengatakan bahwa kondisi ini harus segera disikapi secara serius oleh pemerintah.

Menurutnya, pemerintah, khususnya Pemerintah Kota Singkawang tidak dapat hanya berdiam diri, harus ada antisipasi, melakukan koreksi dan pengecekan lapangan. Andi menilai, jika permasalah ini terus dibiarkan berlarut-larut, bukan tidak mungkin akan adanya pergeseran konsumen–dari pemakai LPG non subsidi ke LPG yang bersubsidi.

“Karena LPG non subsidi cukup mahal harganya. Sementara pilihannya LPG yang subsidi 3 Kg ‘banjir’ dan murah, akhirnya masyarakat yang menengah tadi akan beralih ke yang subsidi. Karena mau tidak mau, penggunaan gas ini sangat dibutuhkan, baik untuk kebutuhan rumah tangga maupun para pelaku usaha,” ujarnya.

Dan lagi, efek domino yang dikhawatirkan ialah, jika masyarakat menengah dan atas sudah mulai beralih ke LPG bersubsidi, maka ketersediaan LPG bersubsidi lambat lain juga akan terancam. Karena stok LPG bersubsidi yang saat ini hanya diperuntukkan bagi masyarakat menengah bawah atau kurang mampu akan menipis.

“Gelombang ‘peralihan’ konsumen ini akan menyebabkan masalah baru. Bukan tidak mungkin akan terjadi chaos. Dimana antara kalangan menengah atas dan kalangan bawah bakal ‘rebutan’ stok. Karena sekali lagi, antara supply and demand tidak berimbang–yang tadinya stok LPG bersubsidi baik-baik saja, namun karena ada gelombang ‘peralihan’ konsumen ‘baru’, membuat posisi masyarakat kurang mampu terjepit,” paparnya.

Untuk sementara–sembari berharap pemerintah, khususnya Pemerintah Kota Singkawang tengah mencari solusi terbaiknya, Andi yang juga merupakan salah satu pengusaha muda di kota itu mengharapkan, agar masyarakat menengah dan atas tidak buru-buru pindah ‘kelas’.

“Kita berharap fenomena kenaikan harga LPG non subsidi ini hanya sementara. Untuk itu saya mengimbau masyarakat menengah dan atas tidak serta merta berlahih, kasihan saudara-saudara kita yang kurang mampu dan yang benar-benar tidak mampu–yang sebenarnya–memang LPG bersubsidi ini diperuntukkan bagi mereka,” ucapnya.

“Memang tidak dapat dipungkiri, kebutuhan akan LPG ini merupakan kebutuhan semua orang, tidak peduli dia kaya atau tidak kaya. Sekarang kuncinya ada di pemerintah. Saya berharap permasalahan ini dijadikan concern utama untuk segera diselesaikan,” tutupnya. (Indra)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *