PLTU Sungai Batu Sanggau Terbakar, PWKS: Diduga Biangnya Batu Bara Palsu!

Kesunyian ini justru memantik pertanyaan lebih besar tentang transparansi dan akuntabilitas pengelolaan aset vital negara di PLTU Sungai Batu itu.
Kesunyian ini justru memantik pertanyaan lebih besar tentang transparansi dan akuntabilitas pengelolaan aset vital negara di PLTU Sungai Batu itu.

PLTU SUNGAI BATU, Infokalbar.com – Asap hitam pekat mengguncang Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, Senin (1/9/2025) pagi. Kebakaran hebat melanda satu unit Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Sungai Batu.

Insiden ini langsung memicu kehebohan warga sekitar serta sorotan publik. Investigasi awal mengarah pada titik dugaan serius: kelalaian operasional sistematis.

Sumber internal menyebutkan, penyebab utama kebakaran ialah penggunaan bahan baku tidak sesuai standar teknis.

Batu bara berspesifikasi rendah atau tidak cocok diduga kuat jadi pemicu. Bahan baku semacam itu menyebabkan proses pembakaran tidak stabil, memicu percikan api berlebihan, serta membuat sistem pengamanan gagal berfungsi.

Ketua Persatuan Wartawan Kabupaten Sanggau (PWKS), Wawan Daly Suwandi, menyoroti kasus PLTU Sungai Batu itu.

“Bahan baku tidak sesuai spesifikasi membuat suhu pembakaran sulit dikendalikan. Situasi ini sangat berbahaya, berpotensi memicu ledakan atau kebakaran,” tegas Wawan.

Praktik Lama Berlangsung

Yang lebih mencengangkan, praktik penggunaan bahan baku di bawah standar itu bukanlah kejadian pertama.

Dugaan kuat menyebutkan, hal ini telah berlangsung dalam kurun waktu cukup lama.

Kelalaian ini tampak dibiarkan begitu saja tanpa tindakan korektif berarti, hingga akhirnya berujung pada insiden fatal.

Dua faktor utama diduga menjadi pendukung praktik kelam ini.

Pertama, lemahnya sistem pengawasan internal di tubuh pengelola PLTU Sungai Batu.

Kedua, penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang tidak optimal, bahkan mungkin hanya sekadar formalitas.

Spekulasi lebih jauh mengindikasikan adanya oknum tidak bertanggung jawab bermain dalam proses pengadaan batu bara.

PLTU Sungai Batu sebagai objek vital nasional seharusnya menjalankan prosedur keselamatan serta kualitas bahan baku dengan sangat ketat.

Api berhasil dipadamkan petugas tanpa korban jiwa. Namun, peristiwa ini meninggalkan trauma dan kekhawatiran mendalam bagi masyarakat.

Warga menuntut dilakukannya audit teknis menyeluruh. Cakupan audit meliputi sistem operasional, kualitas bahan baku, hingga manajemen pengelolaan PLTU Sungai Batu.

Tuntutan ini penting untuk mencegah terulangnya insiden serupa. Hingga laporan ini disusun, pihak pengelola PLTU Sungai Batu dan instansi terkait masih enggan memberikan keterangan resmi.

Keheningan mereka menyelimuti penyebab pasti kebakaran serta sejauh mana dugaan pelanggaran SOP dalam operasional harian.

Kesunyian ini justru memantik pertanyaan lebih besar tentang transparansi dan akuntabilitas pengelolaan aset vital negara di PLTU Sungai Batu itu. ( M.Tasya )