KETAPANG, Infokalbar.com – Pembangunan Jembatan Sei Jelai Hulu di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, terus berlanjut. Proyek infrastruktur penting ini dijalankan secara bertahap menuju target penyelesaian akhir pada 2026.
Pelaksanaan pekerjaan dimulai pada 2019 sebagai Tahap I. Tahap II menyusul pada tahun anggaran 2021.
Dilanjutkan Tahap III di tahun anggaran 2024. dan Tahap IV dilaksanakan pada tahun anggaran 2025.
Keseluruhan proses diarahkan agar jembatan dapat beroperasi penuh di tahun anggaran 2026.
Kepala Bidang Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUPR) Kabupaten Ketapang, Rahmad ST, menjelaskan detail proyek.
Jembatan ini memiliki lebar 9 meter dengan panjang sekitar 100 meter. Nilai investasi untuk penyelesaian konstruksi pada tahun anggaran 2026, dianggarkan sebesar Rp 5 miliar.
“Jembatan ini dapat membuka akses ke Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat,” ujar Rahmad ST, Minggu (21/12/2025).
Dampak Ekonomi Kerakyatan
Kehadiran infrastruktur ini diharapkan memberi dampak sosial-ekonomi signifikan. Masyarakat sebagai penerima manfaat utama akan segera menikmati hasilnya.
“Tujuan utamanya, meningkatkan perekonomian masyarakat khusus Kabupaten Ketapang dan umumnya warga Kalimantan Barat,” tegas Rahmad ST.
Pada tahun anggaran 2025, dialokasikan dana sebesar Rp14 miliar untuk komponen khusus. Anggaran ini diperuntukkan bagi sejumlah aktivitas krusial.
Kegiatan itu meliputi pengadaan besi, pengadaan baja struktur A60, serta pemasangan kerangka baja A20 di sisi kanan dan kiri jembatan.
Selain itu, dana digunakan untuk pasangan batu oprit jembatan dan timbunan oprit jembatan.
Akses Wilayah Terbuka Lebar
Penyelesaian Jembatan Sei Jelai Hulu menjadi kunci penghubung dua provinsi. Infrastruktur ini akan mempermudah mobilitas barang dan jasa antara Ketapang di Kalimantan Barat dengan Kabupaten Lamandau di Kalimantan Tengah.
Konektivitas lebih baik diprediksi akan mempercepat arus perdagangan. Pada gilirannya, hal ini menciptakan multiplier effect bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat di kedua wilayah.
Dengan tahapan pekerjaan yang jelas dan pendanaan berkelanjutan, target peresmian pada 2026 tampak realistis.
Jembatan ini akan menjadi simbol kemajuan dan kerja sama pembangunan antar daerah.
Kesiapan pemerintah daerah menjalankan proyek bertahap menunjukkan komitmen kuat.
Pembangunan infrastruktur dasar menjadi prioritas untuk membuka isolasi wilayah dan mendongkrak daya saing ekonomi lokal di kawasan Kalimantan.( M.Tasya )












