PONTINANAK, Infokalbar.com – Mata Yana berbinar jernih. Warga asal Tasikmalaya, Jawa Barat, berusia 50 tahun itu tak menyangka bertemu kerabat sebangsa di perantauan. Ia tempuh perjalanan 15 jam naik klotok dari kawasan transmigrasi Melano, Kabupaten Kayong Utara. Letih seketika luruh berganti bahagia.
“Saya bermukim di sini sejak 2013,” ucapnya ceria di Pendopo Gubernur Kalbar, Pontianak, Sabtu (26/9/2026). “Hari ini jumpa banyak saudara. Rasanya seperti berada di kampung halaman sendiri.”
Aan, pensiunan prajurit infanteri yang bertugas puluhan tahun di Mempawah, turut menyampaikan rasa syukur.
Anak serta cucunya kini mengikuti jejak mengabdi pada negara. “Luar biasa bisa berkumpul bersama keluarga besar Sunda di tanah ini,” ucapnya tegap.
Silaturahmi Tanpa Batas Suku
Paguyuban Sunda S4 — Simpay Seuweu Siwi Siliwangi — Kalimantan Barat gelar Milangkala ke-67 tahun.
Hadir perwakilan dari 14 kabupaten serta kota seprovinsi. Kegiatan bertujuan kokohkan persaudaraan lintas golongan.
Ketua Panitia Pelaksana Tedi Rukmantara sapa seluruh ketua paguyuban etnis yang hadir atas undangan Gubernur.
“Kita berkumpul untuk pererat ikatan persaudaraan antarmasyarakat tanpa sekat,” tegasnya.
Bantuan disalurkan ke wilayah paling terdampak kabut asap serta kebakaran hutan dan lahan. Fokus utama mencakup Ketapang, Kayong Utara, dan Kubu Raya.
Paket bantuan meliputi kebutuhan dapur umum, air bersih, air minum, hingga sembako.
Kolaborasi Demi Langit Bersih
Ketua Umum Paguyuban Sunda S4 Kalbar, Dede Suratman, soroti hal baru di perayaan kali ini.
“Tahun ini kita jalin kerja sama bersama Telkom untuk berikan bantuan khusus bagi warga terdampak karhutla,” ungkapnya.
Ia jelaskan makna nama S4: Simpay berarti saling mengasihi, Seuweu bersaudara, Siwi mengayomi, Siliwangi teladan leluhur.
Milangkala bukan sekadar seremoni, melainkan bukti kepedulian nyata terhadap sesama serta lingkungan.
Budaya Sebagai Pengikat Persatuan
Pj Sekretaris Daerah Provinsi Kalbar, Hendra, mewakili Gubernur Ria Norsan, sampaikan apresiasi tulus atas perjalanan 67 tahun.
Menurutnya, pelestarian budaya tak berarti menutup diri. Justru keberagaman jadi jembatan pemersatu.
“Filosofi ‘di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung’ tetap jadi pedoman. Bangga budaya asal sekaligus hormati kearifan lokal tempat tinggal kini,” ucapnya.
Kalimantan Barat merupakan rumah besar bagi beragam suku, agama, serta budaya yang hidup berdampingan.
Sinergi paguyuban diharapkan terus kokohkan persatuan sekaligus jaga kelestarian alam. Hendra ajak seluruh warga hindari segala tindakan picu kebakaran hutan maupun lahan demi keamanan bersama.
“Budaya lestarikan, persaudaraan kuatkan, lingkungan jaga, Kalbar bangun bersama menuju daerah aman, sehat, dan sejahtera,” tutupnya.
Acara berlangsung khidmat, hangat, penuh kekeluargaan. Turut hadir jajaran pengurus, tokoh masyarakat.
Serta keluarga besar Paguyuban Sunda S4 Kalbar. Semangat kebersamaan terpancar jelas dari wajah setiap orang yang hadir.












