mgid.com, 605850, DIRECT, d4c29acad76ce94f
banner 728x90 banner 728x90 banner 728x90 banner 728x90 banner 728x90 banner 728x90 banner 728x90 banner 728x90 banner 728x90 banner 728x90 banner 728x90 banner 728x90

Suara Kritis Mahasiswa: Proyek SDN 23 Senilai Hampir Rp 30 M Dinilai Hanya Menghambur-hamburkan Uang Negara!

  • Share

SINGKAWANG, infokalbar.com – Proyek  SDN 23 Kota Singkawang kembali menuai kritik. Dimana proyek senilai Rp 29,7 miliar itu dinilai hanya menghambur-hamburkan uang negara.

Hal itu sebagaimana disampaikan, Leo Candra Nainggolan, salah satu mahasiswa dari Universitas Terbuka Kota Singkawang, kepada wartawan Infokalbar.com, Rabu (27/10/2021).

Jujur, Leo menyatakan, dirinya sedikit kecewa terhadap kebijakan pemerintah Kota Singkawang yang dinilainya kurang akurat dalam melakukan kajian dan menentukan prioritas anggaran APBD.

“Setau saya (bangunan) sekolah, SDN 23 itu masih bagus, kalaupun ada yang rusak bukan berarti harus membangun ulang dan menghabiskan anggaran Rp 29,7 miliar,” jelas Leo.

Mirisnya, lanjut Leo, inefisiensi anggaran ini dilakukan oleh para pejabat daerah Kota Singkawang ditengah kondisi negara sedang krisis.

“Bapak/Ibu kan sudah tau, negara kita lagi dilanda krisis keuangan, mengapa kita malah menghabiskan uang untuk pembangunan sekolah saja,” sesalnya.

“Anggaran Rp 29.7 M itu–kenapa kita tidak lakukan untuk membantu masyarakat–dengan (misalnya, red) memberi modal untuk usaha ke masyarakat saja, terlebih di tengah-tengah pandemi yang berkepanjangan ini, mungkin akan bisa mendongkrak sektor perekonomian masyarakat, khususnya masyarakat Kota Singkawang dan sekitarnya,” paparnya.

Dengan nada sedikit menyindir, Leo menyatakan, masyarakat awam saja mungkin bisa berfikir jernih untuk menentukan–mana yang bakal menjadi prioritas dan mana yang mesti ditangguhkan dahulu–demi kepentingan atau kemaslahatan umum di kala pandemi melanda.

“Masa’ masyarakat biasa lebih bisa berpikir kedepan untuk kehidupan warga bapak/ibu di Kota Singkawang ini,” ucap Leo.

“Saya bukan-nya sok tau dan sok jago dalam berpikir, alangkah baiknya kita bertukar pendapat saja ke masyarakat,” sambung Leo dengan nada sedih.

Selain itu, Leo juga mengkritisi statement yang disampaikan Wali Kota Singkawang, Tjhai Chui Mie, beberapa waktu lalu yang menginginkan adanya ‘SDN Percontohan’ yang memiliki fasilitas lengkap.

“Maaf, saya ingin mempertanyakan statement Ibu Wali Kota, adapun pertanyaan saya menyangkut fasilitas dan salah satunya SD percontohan. Pertama, apakah anggaran Rp 29.7 miliar itu sudah termasuk fasilitas lengkap yang ibu inginkan seperti kursi, papan tulis, lab, meja, dan lainnya,” ujarnya.

“Karena di papan anggaran tersebut ditulis cuma pembangunan sekolah saja, tidak termasuk seluruh fasilitas yang Ibu inginkan. Lalu apakah nantinya ketika bangunan sekolah selesai akan dianggarkan kembali dana pembelian perlengkapan sekolahnya,” sambungnya.

Kedua, lanjut Leo bertanya, apakah Tjhai Chui Mie berani menjamin, dengan adanya sekolah yang megah dengan disertai fasilitas yang lengkap, dapat menjadikan anak-anak Kota Singkawang menjadi generasi pintar dan handal?

“Yang membuat anak itu bisa pintar, dari ajaran seorang guru-nya, bukan fasilitasnya. Kalau gurunya serius mengajari siswanya belajar, anak didiknya pasti jadi anak yang pintar,” cecar Leo.

“Apalagi sekelas Sekolah Dasar (SD) yang menghabiskan anggaran Rp 29.7 miliar itu tidak wajar, terkecuali untuk SMA atau SMP masih sah-sah saja,” katanya.

Leo pun mengajak sejumlah pihak untuk berpikir sejenak, “Sekarang anak SD di suruh main di lab atau komputer apa gak hancur di buat mereka? Marilah berpikir dulu kita sedikit saja. Sudah layakkah Sekolah Dasar mendapat fasilitas lengkap?” katanya seolah tak habis pikir.

Kembali soal bangunan fisik SDN 23, Leo mengaku telah mengamati foto sebelum sekolah itu dirobohkan, dan kondisinya relatif masih bagus.

“Saya ada ambil foto dari internet, gambar SDN 23 sebelum dirobohkan, sepertinya sekolah tersebut masih bagus-bagus saja, belum terlalu parah rusaknya,” ungkap Leo.

“Inti dari pesan saya sebagai masyarakat Kota Singkawang, utamakan wargamu bukan keinginanmu,” jelas Leo dengan nada kesal.

Terakhir, kepada wartawan Infokalbar.com, dengan rendah hati, Leo menyampaikan ungkapan maaf jika ada salah kata dari pesannya tersebut. Leo mengaku, adapun segala kritik yang disampaikannya ini atau selama ini, tak lain demi perbaikan dan kemajuan Kota Singkawang kedepannya.

“Pesan saya, semoga kedepannya kita sebagai pejabat bisa bekerjasama dengan masyarakat saling bahu-membahu,” tutup Leo. (Indra)

  • Share