SANGGAU, Infokalbar.com – Festival seni budaya 2025 Kabupaten Sanggau kembali menjadi ajang berkumpulnya beragam seni dan budaya dari berbagai penjuru.
Di tengah semaraknya pertunjukan, satu penampilan yang berhasil mencuri perhatian datang dari Sanggar Budaya Jaranan RINDU BUDAYA. Dengan gaya khas kuda lumping yang energik, mereka menghadirkan kisah legenda Telaga Ngebel dalam balutan tari dan drama yang penuh makna.
Meski waktu tampil terbatas, sanggar asal Jawa ini sukses menyajikan sebuah pertunjukan yang tidak hanya memukau secara visual, tetapi juga menyentuh secara emosional. Cerita dimulai dari suasana pesta rakyat, lalu berlanjut ke aksi para pemburu berkuda yang masuk ke hutan tanpa mengetahui keberadaan seorang pertapa sakti bernama Baru Klinting.
Keheningan sang pertapa yang telah bertapa selama 300 tahun terusik. Kemarahannya memicu pertempuran seru antara dirinya dan para pemburu. Di tengah situasi genting, muncul sosok Lurah Ngebel juga dikenal dengan nama Kucingan yang akhirnya membantu para pemburu mengalahkan sang pertapa.
Tak sekadar hiburan, pertunjukan ini menyelipkan sejumlah pesan moral. Mulai dari keberanian menghadapi tantangan, pentingnya kesabaran, hingga kepercayaan bahwa segala pencapaian hidup tidak lepas dari peran Tuhan.
“Kami ingin menyampaikan bahwa kesenian tradisional seperti jaranan bukan hanya tontonan, tapi juga tuntunan. Ada nilai kehidupan yang bisa dipetik,” ungkap Basuki Ketua Sanggar RINDU BUDAYA Parindu, Sabtu 23 Agustus 2025.
Lebih jauh, ia juga menyampaikan bahwa keikutsertaan mereka di Festival Seni Budaya Sanggau adalah bentuk komitmen dalam melestarikan budaya Jawa khususnya kesenian kuda lumping agar terus dikenal dan dicintai oleh generasi muda.
“Ini adalah cara kami untuk tetap menjaga warisan leluhur, sekaligus menyampaikan pesan kebaikan lewat seni,” tambahnya.
Penampilan Sanggar RINDU BUDAYA menjadi bukti bahwa seni tradisional masih memiliki tempat istimewa di hati masyarakat. Festival Budaya 2025 pun tak hanya menjadi wadah hiburan, tetapi juga ruang pembelajaran yang memperkaya khasanah budaya lokal. (ARP)










