ENTIKONG, Infokalbar.com – Suasana Jumat pagi di kawasan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Entikong terasa berbeda. Di antara hiruk-pikuk aktivitas warga dan pedagang kecil, pegawai Kantor Imigrasi Kelas II TPI Entikong terlihat sibuk membagikan paket makanan siap santap.
Kegiatan itu menjadi bagian dari program “Jumat Berkah, PIMPASA Berbagi” yang rutin digelar sebagai bentuk kepedulian sosial bagi masyarakat perbatasan.
Dipimpin langsung oleh Kepala Kantor Imigrasi Entikong Henry Dermawan Simatupang, kegiatan yang digelar pada Jumat, 24 Oktober 2025, ini diikuti seluruh jajaran pegawai dan pejabat struktural.
Tanpa sekat, mereka turun ke lapangan, menyapa warga satu per satu, berbagi makanan, dan menebar semangat di tengah panasnya terik pagi.
Tak hanya pegawai, Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kantor Imigrasi Entikong juga turut ambil bagian. Kehadiran para istri pegawai ini menambah suasana menjadi lebih hangat dan akrab. Kolaborasi itu menjadi gambaran bahwa kepedulian sosial bukan hanya tugas aparatur negara, tetapi juga gerakan bersama seluruh keluarga besar Imigrasi Entikong.
Bagi sebagian warga, aksi sederhana ini punya makna besar. “Jarang ada yang turun langsung begini, apalagi dari instansi pemerintah,” ujar seorang pedagang di sekitar PLBN dengan wajah sumringah. Ia mengaku terharu saat menerima makanan dari pegawai Imigrasi yang ramah menyapa.
Henry menegaskan, kegiatan ini bukan sekadar rutinitas berbagi, melainkan cara untuk memperkuat hubungan antara aparat dan masyarakat di kawasan perbatasan. “Kami ingin menunjukkan bahwa pelayanan publik tak hanya soal dokumen, tapi juga soal rasa kemanusiaan,” katanya.
Keceriaan tampak jelas di wajah masyarakat dan pegawai yang terlibat. Senyum, sapaan, dan tawa kecil di tengah kegiatan itu menjadi bukti bahwa kebersamaan sederhana bisa menumbuhkan kehangatan yang nyata.
Melalui program Jumat Berkah ini, Kantor Imigrasi Entikong menegaskan komitmennya untuk menghadirkan pelayanan yang humanis, dekat dengan masyarakat, dan berakar pada nilai kepedulian. Langkah kecil di perbatasan itu menjadi pengingat bahwa negara hadir tidak hanya lewat pelayanan administratif, tetapi juga lewat sentuhan kemanusiaan yang tulus.










