SIMPANG AMPAR, Infokalbar.com – Sebuah jagat maya kembali diguncang perkara remeh-temeh yang gagal dicerna otak. Kronologinya amat basi: sebuah judul berita bertaji, “Proyek Jalan Diduga Bermasalah di Kalimantan Barat, Ruas Simpang Ampar Balai Bekuak Laur Baru Dikerjakan Sudah Rusak,” beredar liar bak api menyambar titik bensin.
Netizen pun serempak murka. Vonis dijatuhkan seketika, padahal fakta sesungguhnya ibarat hantu, tak pernah disentuh apalagi dibaca.
Telusur fakta membuktikan, kemarahan publik itu absurd. Sumber internal proyek, dengan nada lelah khas pegawai yang kerap disalahpahami, mengklarifikasi, “Lobang-lobang anyar yang masuk dalam berita itu bukan bagian dari rekayasa konstruksi awal tahun kemarin.”
Ia melanjutkan, dengan tekanan pada setiap suku kata, “Proses pengerjaan masih bergulir.
Bukan kasus baru dikerjakan lantas jebol seketika.” Sebuah klarifikasi sederhana yang seharusnya mematikan api kontroversi. Namun, nalar waras rupanya sudah lebih dulu tewas.
Peristiwa ini menjelma cermin retak yang memantulkan wajah asli literasi digital saat ini.
Masyarakat kini menjelma gerombolan raksasa yang alergi membaca isi. Otak terlatih mencerna judul sensasional sepanjang lima detik, lalu jempol bertindak selaku hakim agung.
Sebuah sirkus siber tanpa tenda, di mana semua makhluk sibuk berkomentar, menghujat, dan menyebar benci, bermodalkan sepotong frasa penuh racun.
Kita hidup di masa ketika kecepatan informasi berbanding terbalik dengan kedalaman berpikir.
Hoaks tidak lahir dari kekosongan; ia dititahkan oleh pembaca malas yang gagal memverifikasi anonimitas akun.
Judul clickbait bukanlah biang keladi tunggal, melainkan sekadar kail pancing di lautan otak beku. Fakta tak lagi sakral, sebab emosi dan amarah instan jauh lebih nikmat untuk dikonsumsi.
Inilah tragedi “Saring Sebelum Sharing” yang tinggal slogan lapuk. Paduan suara maya lebih suka berteriak lantang di ruang gema ketimbang memeriksa sumber arus utama yang terverifikasi.
Sebuah konten meragukan tak lagi didiskusikan dengan kepala dingin, melainkan langsung diviralkan sebagai kebenaran absolut, seolah-olah tombol bagikan adalah senjata pamungkas peradaban.
Fenomena ini melampaui sekadar salah klik. Secara klinis, ini adalah sindrom “Fungsional Akut”, yakni kondisi ketika organ kognitif sehat, tetapi lumpuh total saat berhadapan dengan teks lebih dari dua baris.
Penderitanya gemar membaca sebatas judul, langsung menghakimi, lalu merasa paling suci di kolom komentar.
Menerapkan langkah bijak membaca kini terasa utopis. Mengecek fakta menggunakan mesin pencari dianggap pekerjaan kaum elit yang menyita waktu.
Berpikir kritis untuk menakar dampak sebelum menyebar dianggap sebagai hobi tak berguna.
Akibatnya, ruang siber yang diimpikan sehat dan aman berubah menjadi hutan belantara; setiap sudutnya penuh jebakan salah paham yang siap meledak memicu kepanikan massal.
Padahal, resepnya tidak rumit: baca keseluruhan, bukan sekadar judul. Pahami konteks. Pastikan manfaat unggahan lebih besar ketimbang risiko malapetaka sosial yang ditimbulkan.
Sialnya, di negeri yang warganya doyan berantem di media sosial, menyuruh membaca utuh sama saja menyuruh berenang di lautan api.
Sebagai generasi digital, kita terlalu sibuk menyematkan mahkota “cerdas” di bio profil media sosial, namun gagal total menciptakan generasi melek teks.
Peristiwa lubang di Kalimantan Barat hanyalah sekeping contoh kecil dari gempa besar literasi yang siap meruntuhkan akal sehat kolektif.
Selama membaca masih dianggap membosankan dan menghakimi dianggap profesi bebas, kita tak lebih dari badut-badut sirkus yang asyik menari di atas puing-puing kebenaran.












