Warga Murka, Bakar Lanting Jek di Sungai Boyan Meliau

Aksi pembakaran lanting jek penambang emas liar di Sungai Boyan, Sanggau, Kalimantan Barat, memanas. Warga desak penghentian PETI akibat rusaknya sumber air saat kemarau
Aksi pembakaran lanting jek penambang emas liar di Sungai Boyan, Sanggau, Kalimantan Barat, memanas. Warga desak penghentian PETI akibat rusaknya sumber air saat kemarau

MELIAU, Infokalbar.com – Aksi pembakaran lanting jek penambang emas liar di Sungai Boyan, Sanggau, Kalimantan Barat, memanas. Warga desak penghentian PETI akibat rusaknya sumber air saat kemarau.

Peristiwa itu merupakan gejolak akumulatif warga di bantaran Sungai Boyan akhirnya mencapai titik didih.

Sebuah lanting jek, ponton kayu yang menjadi instrumen vital aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI), hangus dilalap api.

Amukan massa ini menjadi puncak frustrasi terhadap degradasi lingkungan yang tak kunjung berkesudahan, sekaligus tamparan keras bagi otoritas yang dianggap tumpul.

Kepolisian Sektor Meliau sejatinya bukan tanpa upaya. Kapolsek Meliau, Iptu Supar, menegaskan bahwa imbauan preventif hingga langkah persuasif berulang kali digelar. Instruksi untuk menyetop operasi ilegal itu selalu berujung antiklimaks.

“Akan tetapi seringkali diabaikannya,” ujar Iptu Supar, merespons peristiwa pembakaran di perairan Desa Pampang II ditulis pada Selasa (21/7/2026).

Ironi ini mencuat kedaulatan hukum seolah lenyap ditelan deru mesin tambang emas ilegal.

Ironi Kekuasaan

Kepala Desa Pampang II, Marianto, mencoba meluruskan pusaran penyebab. Ia menyatakan, kekeruhan Sungai Boyan tak semata dipicu aktivitas di wilayah administrasinya.

Sumber utama kekeruhan justru berasal dari aktivitas masif di hulu, tepatnya di Kuala Rosan dan Sungai Kembayau.

Distingsi ini krusial, sebab amarah warga terlontar ke unit operasi terdekat, sementara biang kerok justru berpotensi mengalir dari area lain.

Dimensi politik turut menyeruak. Nama Fransiskus Taufik, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sanggau dari Fraksi Golkar yang merepresentasikan Dapil Sanggau 2, terseret dalam pusaran informasi.

Saat dikonfirmasi, politisi petahana periode 2024–2029 itu memilih merapatkan barikade informasi.

Itu mengindikasikan manuver penghindaran atau sekadar ketidakmauan untuk terlibat dalam narasi yang sedang bergulir.

Air Keruh

Pembakaran lanting jek bukanlah vandalisme tanpa sebab. Seorang tokoh masyarakat yang memilih anonim mengurai benang merah insiden tersebut.

Aksi ini merupakan bentuk kekecewaan akut yang dikonversi menjadi peringatan keras.

“Itu dikarenakan sudah mengganggu sumber air yang menjadi kebutuhan masyarakat di mana pada saat sekarang musim kemarau air surut,” bebernya.
Kemarau memperparah krisis air bersih lantaran jaringan pipanisasi yang dijanjikan tak kunjung optimal.

Eskalasi ancaman pun disuarakan lantang. Apabila dalam hitungan hari ke depan aktivitas PETI masih terus beroperasi, warga tak akan ragu menggelar operasi penyisiran besar-besaran.

“Akan melakukan swiping mulai dari Sungai Kembayau, Sungai Kualau Rosan,” cetusnya. Pernyataan ini adalah ultimatum terbuka biarkan sungai mati, maka konflik horizontal siap meledak.