TEBAS, Infokalbar.com – Sebuah mahakarya arsitektur hidrolika sedang lahir dari rahim proyek Peningkatan Daerah Irigasi Rawa (DIR) Tebas Komplek.
Proyek kawakan milik Balai Wilayah Sungai Kalimantan (BWSK) 1 ini menelan biaya fantastis, Rp22,794 miliar.
Uang segepok itu rupanya dikorbankan demi sebuah eksperimen teknik sipil radikal memadukan cor beton modern dengan pesona batu kali tradisional, di satu saluran sama, tanpa aba-aba.
PT Anugrah Bayu Arya Perkasa, kontraktor pelaksana, seolah mendirikan laboratorium fisika kuantum terbuka.
Warga sekitar, para pengamat tanpa ijazah, mengamati fenomena ganjil tiap hari. Metode kerja mereka bak tetris tanpa pola.
“Sebagian pakai pasangan batu kali, eh bagian lain cor beton. Lebar batu kali pun unik, ada lima, empat, bahkan ujung tertentu cuma dua setengah meter. Adukan semen? Masih manual, diaduk kayak bikin kue rumahan,” ujar warga, takjub bukan main.
Resep Rahasia RAB
Spekulasi pun berkembang liar. Logika umum runtuh. Apakah Rencana Anggaran Biaya (RAB) memang mendikte skizofrenia konstruksi semacam itu?
Kalau iya, pantas saja hasil kerjaan ini jauh dari cerminan kualitas, apalagi kuantitas. Ini bukan irigasi, ini monumen abstrak pemborosan.
Bangunan puluhan miliar itu dirancang bukan buat awet, melainkan buat segera kadaluwarsa. Sia-sia duit negara dikucurkan, tinggal tunggu waktu retak dan jadi legenda lokal.
Melihat absurditas proyek basah ini, warga cuma bisa bermunajat birokrasi. “Kami cuma berharap BPK dan APH jeli. Periksa itu proyek dengan kaca pembesar, biar laporan kami ke langit lebih tinggi punya dasar kokoh, bukan dasar batu kali dua meter,” demikian pinta warga setempat menyelipkan harapan.
Kasus proyek besar ini seakan ingin membuktikan di Kabupaten Sambas Kalimantan Barat, hukum termodinamika konstruksi bisa dinegosiasi.
Semen manual, ukuran molor, semua sah asal kontrak aman.
Pertanyaan besar kini menggantung, akankah irigasi ajaib ini mengalirkan air, atau justru aliran dana yang derasnya tak terbendung?












