KETAPANG, Infokalbar.com – Udara Kabupaten Ketapang Kalimantan Barat ikut bergerak cepat ketika kabar seorang buruh proyek merebak di jagat maya. Publik sontak menyatukan simpati.
Sosok itu adalah M. Nazar Syahputra, tangan kasar asal Bandung yang baru sepekan menempelkan keringat di proyek PT BAP, Desa Pagar Mentimun, Kecamatan Matan Hilir Selatan.
Nasib baik seakan enggan singgah. Di tanah rantau, tubuhnya roboh, memaksanya terbaring lemah di RSUD dr. Agoesdjam Ketapang.
Di balik dinding rumah sakit, sebuah drama kemanusiaan nyaris sempurna tercipta.
Informasi beredar liar, menyebut pria tersebut sebatang kara tanpa pendampingan perusahaan.
Kondisi ini membakar emosi warganet. Segala tuntutan agar korporasi bertanggung jawab menghujani linimasa.
M. Nazar, tanpa ia sadari, mendadak menjadi simbol perlawanan kelas pekerja yang seolah diabaikan saat raga tak lagi sanggup beroperasi.
Musyawarah Sang Penengah
Riuh rendah suara publik tak berlangsung selamanya. Di titik nadir ketegangan, jalur diplomasi justru dibuka lebar-lebar.
Menanggalkan ego sektoral, pihak perusahaan bergerak cepat begitu informasi derita Nazar sampai ke telinga mereka.
Adalah Dede. Ia selaku Penanggung Jawab Lapangan PT BAP, langsung menginisiasi koordinasi internal. Pendekatan humanis menjadi senjata pamungkas.
Mereka tak memilih baku hantam argumen, melainkan merangkul keluarga korban.
Puncaknya terjadi pada Selasa, 8 Juli 2026. Sebuah meja musyawarah menjadi saksi bisu cairnya ketegangan.
Perusahaan dan keluarga buruh saling tatap, bukan untuk bermusuhan, melainkan menjahit koyaknya kepercayaan.
“Kami berkomunikasi intens. Alhamdulillah, lewat musyawarah dan komunikasi baik, perkara ini tuntas secara kekeluargaan. Segala tanggung jawab kami lunasi sesuai kesepakatan,” tegas Dede.
Peristiwa ini menjadi bukti bahwa suara hati lebih lantang dibandingkan riuhnya teks di media sosial.
Bagi perusahaan, insiden ini bukan sekadar kasus yang berlalu begitu saja setelah klaim penyelesaian.
Pahitnya sorotan publik menjelma menjadi bahan bakar evaluasi tata kelola pekerja. Dede menambahkan, apresiasi setinggi-tingginya ia sampaikan pada semua elemen yang peduli.
Sorotan tajam dari masyarakat sipil direspons dengan lapang dada. Ke depan, standar operasional prosedur untuk pekerja sakit tak boleh lagi bertele-tele. Respon cepat dan ketangkasan koordinasi kini menjadi harga mati.
Sementara itu, dari sisi M. Nazar, babak kelam di tanah Kalimantan tersebut resmi ditutup dengan lega.
Ia membenarkan bahwa perusahaan telah menemuinya dan melunasi seluruh kewajiban tanpa ada secuil pun sisa luka.
“Alhamdulillah, semuanya selesai baik-baik. Terima kasih untuk perusahaan, para tenaga kesehatan, dan rekan jurnalis. Saya kini bisa pulang ke Bandung dengan tenang,” tutur Nazar, menandai akhir dari perjuangannya.
Episode di proyek PT BAP ini pun sirna tanpa menyisakan residu konflik. Kedua pihak mengakhiri polemik dengan saling menggenggam erat, mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan di atas kepentingan material.
Publik kembali diingatkan, bahwa musyawarah mufakat tetap menjadi mahkota penyelesaian sengketa di republik ini.
Masalah antara PT BAP dan buruh akhirnya mencapai titik terang. Kedua belah pihak resmi menyepakati penyelesaian secara kekeluargaan.
Keberhasilan mediasi ini tak lepas dari peran signifikan Paguyuban Pasundan Ketapang yang menjembatani komunikasi dan negosiasi.
Berkat pendekatan persuasif organisasi kemasyarakatan ini, ketegangan yang sempat memanas berhasil diredam.
Kesepakatan damai ini diharapkan menciptakan hubungan industrial yang harmonis dan kondusif ke depannya.
Penyelesaian ini menjadi contoh baik bahwa dialog kekeluargaan mampu menjadi solusi terbaik bagi perselisihan perusahaan dan pekerja.










