GUNUNG UPETI MENGGILA! Desa Semoncol Sanggau Kalbar Disulap Jadi Tambang Emas Halal

Kasus tambang emas ilegal di di Desa Simoncol, Kecamatan Batang Tarang, Kabupaten Sanggau Kalimantan Barat kembali bernyanyi. Alat berat mengaum, aparat tersenyum, dan upeti mengalir deras bak sungai surga.
Kasus tambang emas ilegal di di Desa Simoncol, Kecamatan Batang Tarang, Kabupaten Sanggau Kalimantan Barat kembali bernyanyi. Alat berat mengaum, aparat tersenyum, dan upeti mengalir deras bak sungai surga.

SEMONCOL, Infokalbar.com – Harmoni deru mesin kembali mengalun syahdu dari perut di Desa Semoncol, Kecamatan Batang Tarang, Kabupaten Sanggau Kalimantan Barat (Kalbar) hari ini viral.

Bukan pabrik resmi, bukan pula proyek pembangunan. Ini simfoni klasik para jawara bawah tanah Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI).

Tiga unit alat berat bak monster baja menggerus kulit bumi Kalimantan Barat. Urusan izin? Ah, itu cerita membosankan bagi para saudagar lubang.

Warga sudah mafhum. Mereka hafal betul jadwal operasi ini, seperti hafal jadwal pasar pagi.

Saat senja merunduk, suara ekskavator justru meninggi, mengalunkan lagu pilu tentang perut bukit yang dikoyak.

Keruhnya Sungai Landak kini bukan sekadar metafora, melainkan laporan visual harian yang masuk ke grup WhatsApp desa.

Ironisnya, penjaga moral desa lebih sibuk menghitung lembaran rupiah ketimbang menghitung pohon tumbang.

Setor, Senyap, Senang

Kabar mengiang dari kampung, ada cuan khusus mengalir deras tiap bulan. Uang diam itu konon menjadi pelumas paling ampuh untuk membungkam sirine patroli.

Praktik ini begitu rapi, bak simbiosis mutualisme kelas kakap. Para penambang liar mendapat keleluasaan, sementara oknum Aparat Penegak Hukum (APH) mendapat gaji ketiga belas sepanjang tahun.

Tak heran, walau alat berat berseliweran bak robot transformer, tak satu pun seragam cokelat atau hijau lumut tampak berkeringat.

“Kami tidak butuh pahlawan bersenjata laras panjang, kami butuh mereka yang tuli terhadap dering notifikasi rekening,” celetuk seorang petani karet, muka masam, sembari menatap kebunnya yang mulai longsor.

Ia enggan namanya disebuat, takut tiba-tiba dilaporkan balik dengan pasal pencemaran nama baik negara.

Duit Haram, Alam Kiamat

Fenomena ini adalah potret buram simbiosis maut antara keserakahan dan pembiaran.

Gunung emas memang menggiurkan, tapi sungai yang tercemar merkuri tak bisa lagi melahirkan ikan.

Jika aparat hanya berdiri sebagai patung pajangan penerima upeti, maka bencana ekologis ini adalah kuburan massal masa depan.

Hingga berita ini diketik, tak ada sirine, tak ada penggerebekan. Hanya suara gemuruh alat berat yang terdengar seperti tawa setan, mengejek lantang aturan yang cuma tajam ke bawah, tapi tumpul dan berlapis emas di atas.

Pemerintah dan APH daerah hingga pusat, ada di peta atau sekadar legenda di buku pelajaran?

Catatan: Koreksi nama Desa Semoncol, sebelumnya redaksi menyebutkan Desa Simoncol.