Gertak Kalbar Laporkan Serangan Teror Digital Saat Aksi Bela KPK ke Polda

  • Share
Keterangan foto: Salah satu aksi “Mimbar Bebas” yang menolak pelemahan KPK oleh Gertak Kalbar baru-baru ini. (Istimewa).

KALBAR, infokalbar.com – Gerakan Rakyat Anti-Korupsi (Gertak) Kalimantan Barat secara resmi melayangkan laporan serangan teror digital yang diterima pihaknya pada 3-5 Juni 2021 kemarin–saat pelaksanaan “Mimbar Bebas” yang merespon pelemahan KPK, ke Polda Kalbar.

Dikutip dari Tempo.co, laporan ini disampaikan Gertak Kalbar ke Polda Kalbar melalui salah satu anggotanya, YS (26 tahun), pada Senin, (07/06/2021).

Ketika melapor, YS (26 tahun) didampingi empat kuasa hukumnya dari Tim Advokasi Antikorupsi. Laporan tersebut diterima petugas bernama Brigpol Fahrul Anggara Putera, dan diberi nomor STTP/152/VI/2021/Ditreskrimsus.

“Peretasan, teror digital, dan doxing terjadi kepada setidaknya 6 orang dari aliansi Gertak,” kata anggota Gertak Kalbar, Sri Haryanti dalam keterangannya, Selasa (08/06/2021).

Sri menjelaskan, serangan tersebut dialami aliansi Gertak pasca aksi penyampaian pendapat menolak pelemahan KPK pada Kamis, 3 Juni 2021, dan setelah acara nonton bareng dan diskusi film dokumenter KPK End Game, pada Sabtu, 5 Juni 2021.

Sri menyatakan, bahwa YS memberikan keterangan bahwa akun Grab YS telah diretas, bahkan digunakan untuk melakukan pesanan palsu dan food bombing. YS juga mendapatkan upaya peretasan akun WhatsApp, sehingga terpaksa mengganti nomor pada Jumat, 4 Juni 2021.

Menurut Sri, YS merasa nomor lamanya tersebut masih aktif, sehingga YS meyakini nomor itu telah diretas. “Hal itu dikuatkan dengan bukti chat dari satu anggota Gertak, yang menyatakan bahwa pada Sabtu pagi mendapati nomor tersebut masih aktif dan dapat menerima pesan WhatsApp,” kata dia.

Masih berdasarkan ulasan Tempo.co, dalam pemeriksaan di kepolisian, Sri mengungkapkan polisi menerima laporan bahwa nomor lama YS sempat menyebarkan berita bohong dan berbau SARA, serta ancaman kepada Sekolah Tinggi Katholik Negeri (STAKatN) Pontianak. 

Kepada polisi, kata Sri, YS menyatakan bahwa bukan dia yang melakukannya, dan tidak mungkin dia menyebarkan hal tersebut, karena YS adalah penganut agama Katholik. 

“YS juga menuturkan bahwa teman-temannya tidak pernah mendapat pesan siaran (broadcast message) seperti itu darinya,” ujar Sri.

Sri mengatakan, polisi berencana meminta keterangan tiga saksi yang merupakan teman YS terkait penggantian nomor telepon dan pesanan palsu serta food bombing.

Aliansi Gertak meyakini serangan tersebut berkaitan erat dengan isu pelemahan KPK. Pelakunya, kata Sri, diyakini memiliki akses dan kemampuan. Ia pun meminta kepolisian untuk mengungkap pelaku peretasan sebagai upaya penegakan hukum demi perlindungan keamanan terhadap masyarakat di dunia digital. (FikA)

  • Share