PWI Pilih Nahkoda Baru, Akhmad Munir Resmi Kalahkan Hendry CH Bangun

Akhmad Munir bersama PLT Ketua PWI Kalbar Wawan Suwandi serta pengurus: Kemenangan Akhmad Munir bukan sekadar soal kursi Ketua Umum. Ini adalah momentum kebangkitan kolektif insan pers Indonesia.
Akhmad Munir bersama PLT Ketua PWI Kalbar Wawan Suwandi serta pengurus: Kemenangan Akhmad Munir bukan sekadar soal kursi Ketua Umum. Ini adalah momentum kebangkitan kolektif insan pers Indonesia.

BEKASI, Infokalbar.com – Pria berwajah teduh itu tersenyum lebar, sorot matanya memantulkan semangat baru. Akhmad Munir, Direktur Utama LKBN ANTARA, resmi dinobatkan sebagai Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) periode 2025-2030.

Dalam kongres akbar yang digelar di Gedung BPPTIK Komdigi, Cikarang, Kabupaten Bekasi Jawa Barat pada Sabtu, 3 Agustus 2025, Cak Munir meraih 52 suara, menundukkan rivalnya Hendry CH Bangun yang mengantongi 35 suara.

Di tengah tepuk tangan riuh para delegasi, kemenangan Munir bukan sekadar hasil pemungutan suara, melainkan simbol dimulainya rekonsiliasi besar dalam tubuh organisasi pers tertua di Indonesia.

Dinamika Kongres PWI

Kongres PWI kali ini diikuti 87 pemilik suara dari 39 provinsi. Suasananya tegang, namun tertib dan demokratis. Pemungutan suara disiarkan langsung melalui kanal YouTube Kongres PWI, memberikan transparansi penuh kepada publik.

Pada awal penghitungan, Hendry CH Bangun sempat unggul tipis. Namun, sejak Munir mencapai 15 suara pertama, tren perolehan suaranya tak lagi terkejar.

Sorak sorai para pendukung memecah kesunyian aula kongres ketika angka 52 suara ditetapkan sebagai kemenangan mutlak.

Tak hanya itu, Atal S Depari juga terpilih sebagai Ketua Dewan Kehormatan PWI dengan 44 suara, mengalahkan Sihono HT yang memperoleh 42 suara.

Rekonsiliasi dan Pemulihan Marwah PWI

Dalam pidato kemenangannya, Munir menegaskan bahwa kemenangan ini bukan kemenangan personal, melainkan kemenangan kolektif insan pers Indonesia.

“Ini bukan kemenangan pribadi, tetapi kemenangan seluruh anggota PWI untuk menjaga marwah profesi wartawan,” ujar Cak Munir dengan suara bergetar.

Cak Munir juga menyinggung luka lama yang ditinggalkan akibat dualisme kepengurusan PWI beberapa tahun terakhir.

Polarisasi internal membuat citra PWI meredup di mata publik dan pemangku kepentingan.

“Dampak dualisme kepengurusan membuat branding PWI kehilangan kepercayaan publik. Tugas utama kita adalah membangun kembali trust dan memulihkan citra organisasi,” tegasnya.

Langkah awal Munir dimulai dengan memimpin rapat pleno ketiga Kongres PWI yang langsung menetapkan tiga formatur pusat:

  • Fathurrahman (Pulau Sumatera)
  • Lutfil Hakim (Pulau Jawa)
  • Sarjono (Pulau Sulawesi)

Formatur ini akan bekerja selama 30 hari menyusun komposisi kepengurusan lengkap PWI Pusat periode 2025-2030.

Tantangan Pers Nasional di Era Disrupsi Digital

PWI kini berdiri di persimpangan sejarah. Dunia jurnalisme mengalami guncangan akibat disrupsi digital, membanjirnya informasi media sosial, dan menyusutnya kepercayaan publik pada media arus utama.

Munir memaparkan visinya untuk membangun ekosistem pers Indonesia yang beradaptasi dengan transformasi digital.

Salah satu agenda besar adalah penyelenggaraan festival pers nasional guna mengembalikan citra PWI sebagai penjaga kredibilitas informasi.

“Kita harus hadir di ruang digital, mengawal publik dari arus misinformasi, dan menjaga standar etika jurnalistik,” ujar Cak Munir.

Dukungan Pemerintah dan Dewan Pers

Kongres ini juga dihadiri Wakil Menteri Komunikasi Informasi dan Digital (Komdigi) Nezar Patria serta Ketua Dewan Pers, Profesor Komaruddin Hidayat.

Dalam sambutannya, Nezar Patria menegaskan bahwa Komdigi tidak mengintervensi jalannya pemilihan.

Kehadiran pemerintah hanya sebatas memfasilitasi tempat, memberi ruang bagi PWI menentukan pemimpinnya secara independen.

“Kita berharap PWI bisa kembali solid dan bersatu memilih kepemimpinan yang bisa diterima semua pihak,” ujar Nezar Patria.

Sementara itu, Ketua Dewan Pers, Profesor Komaruddin Hidayat menilai proses rekonsiliasi PWI sebagai langkah bijaksana. Ia mengibaratkan konflik internal PWI seperti rumah tangga yang retak.

“Pertengkaran itu wajar, tapi rumahnya jangan sampai dibakar,” katanya sambil tersenyum.

Makna Kemenangan Cak Munir Untuk Masa Depan PWI

Terpilihnya Munir membawa harapan baru sekaligus tanggung jawab besar. Sebagai organisasi wartawan terbesar dan tertua di Indonesia, PWI memegang peranan strategis dalam menjaga kebebasan pers yang bertanggung jawab.

Di bawah kepemimpinan baru ini, publik berharap PWI tak hanya menjadi rumah besar bagi wartawan, tetapi juga benteng terakhir etika jurnalisme profesional di tengah derasnya arus informasi digital.

Cak Munir sendiri menutup pidatonya dengan komitmen penuh.

“Saya akan memastikan PWI berdiri tegak, menjaga marwah profesi, dan merangkul semua elemen pers untuk bersama mengangkat kembali kepercayaan publik,” ucap
Cak Munir.

Babak Baru, Harapan Baru

Kemenangan Akhmad Munir bukan sekadar soal kursi Ketua Umum. Ini adalah momentum kebangkitan kolektif insan pers Indonesia. Dalam lima tahun ke depan, PWI dihadapkan pada tantangan membangun soliditas internal, mengawal transformasi digital, dan memulihkan kepercayaan publik.

Dengan mandat dari 87 pemilik suara se-Indonesia, Munir memulai babak baru perjalanan PWI.

Jalan ke depan tak mudah, tetapi peluang membangun jurnalisme independen, kredibel, dan berintegritas terbuka lebar. (Wawan Suwandi)