BENGKAYANG, Infokalbar.com – Hiruk-pikuk pemberitaan media daring belakangan menyorot tajam sebuah proyek vital di jalur perbatasan. Proyek Preservasi Ruas Jalan Nasional Anjungan – Bengkayang – Jagoi Babang menjadi sasaran tembak dugaan pekerjaan asal jadi.
Namun, jauh dari ingar-bingar pemberitaan miring, proyek yang dikerjakan PT Surya Murakabi Abadi ini justru menyimpan fakta berbeda.
Proyek ini bukan sekadar hamparan aspal, melainkan nadi baru penggerak ekonomi warga setempat yang telah lama mendamba infrastruktur layak.
Klarifikasi resmi akhirnya bergulir. Manajer Pelaksanaan Proyek, Ir Rito Juliansyah ST, angkat bicara dari lokasi pekerjaan pada Jumat, 26 Juni 2026. Dengan nada tenang, ia menepis kabar yang menyudutkan.
“Proyek ini masih dalam tahap pengerjaan hingga 31 Desember 2026, dan masih ada masa pemeliharaan 365 hari. Menyimpulkan adanya kerugian keuangan negara saat ini jelas prematur. Semua akan melalui proses audit akhir, baik dari Inspektorat maupun BPK,” tegasnya.
Isu kerusakan di beberapa titik jalan yang ramai diperbincangkan ditanggapi dingin. Dalam dunia konstruksi, Rito menjelaskan bahwa evaluasi dan perbaikan teknis adalah siklus lumrah selama masa pelaksanaan.
Bagian pekerjaan yang memerlukan penanganan akan dikoreksi sesuai metode yang berlaku. Ini adalah bagian dari dinamika proyek, bukan vonis kegagalan.
Lebih lanjut, PT Surya Murakabi Abadi membantah keras tudingan bahwa proyek ini adalah pekerjaan coba-coba.
Perusahaan menegaskan bahwa persyaratan lelang tidak berbelit dan telah sesuai ketentuan.
Sebagai bukti keseriusan, mereka memiliki peralatan utama produksi hotmix, yaitu Asphalt Mixing Plant (AMP), sebagai syarat mutlak pengerjaan jalan nasional.
Pekerja Diproteksi Total

Satu lagi tudingan krusial yang diluruskan adalah soal standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Rito membantah adanya kelalaian penyediaan Alat Pelindung Diri (APD).
“Kami wajibkan dan sediakan helm proyek, rompi keselamatan, sarung tangan, dan sepatu boot. Rambu-rambu peringatan serta police line juga terpasang di setiap lokasi rawan,” paparnya.
Penerapan K3 bukan formalitas, melainkan fondasi menciptakan lingkungan kerja produktif yang taat regulasi.
Manajer Proyek dengan lapang dada berterima kasih atas semua kritik yang dilayangkan. Ia menganggap tudingan publik sebagai bahan evaluasi menyeluruh.
Ia menyelipkan pesan penting, “Kami menyarankan, pihak yang mengkritik progres proyek ini idealnya adalah mereka yang berkompeten di bidangnya, atau paham betul spesifikasi teknis yang berlaku.”
Ekonomi Warga Bergeliat
Di tengah pusaran polemik, gaung positif justru terdengar lantang dari masyarakat. Antusiasme tokoh setempat sangat tinggi. Mereka menyambut baik penanganan jalan nasional yang kini diperlebar dan dilapisi aspal mulus.
Jalan yang dulu mungkin hanya menjadi keluh, kini menjadi penghubung harapan. Akses menuju Jagoi Babang yang semakin mulus membuka keran ekonomi, memangkas waktu tempuh, dan menjanjikan distribusi logistik yang lebih efisien.
Proyek ini, bagi warga setempat, adalah jawaban dari doa panjang akan kemajuan Kalimantan Barat.
Kontrak pekerjaan pun masih terus berjalan untuk menyelesaikan titik-titik yang masih menjadi sorotan, membuktikan bahwa komitmen untuk menuntaskan proyek sesuai standar adalah harga mati.












