PONTIANAK – Gubernur Kalimantan Barat, Ria Norsan, meminta seluruh jajaran pemerintah daerah, TNI-Polri, dunia usaha, dan masyarakat memperkuat kesiapsiagaan menghadapi peningkatan eskalasi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).
Pesan itu disampaikan Norsan saat mengikuti Rapat Koordinasi Penanganan Peningkatan Eskalasi Karhutla secara virtual dari Data Analytic Room Kantor Gubernur Kalimantan Barat, Senin (10/8/2026).
Rakor tersebut dipimpin Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan RI, Jenderal TNI (Purn) Djamari Chaniago, dan diikuti jajaran Forkopimda, BNPB, BPBD, BMKG, TNI-Polri, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan, serta sejumlah instansi terkait. Dalam rakor, Norsan memaparkan kondisi terkini Karhutla di Kalimantan Barat. Berdasarkan data yang disampaikan, luas lahan yang terbakar telah mencapai 28.680,47 hektare dari total kawasan hutan Kalbar sekitar 8,31 juta hektare.
“Yang terbakar sekitar 28.000 hektare. Untuk penanggulangan, kami terus melakukan upaya di lapangan. Kebetulan Pak Kepala BNPB kemarin baru saja datang ke Kalimantan Barat. Jadi kami tetap siaga di lapangan dan selalu berupaya semaksimal mungkin untuk memadamkan api,” ujar Norsan.
Selain pemadaman, Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat juga telah meminta dukungan BNPB untuk pelaksanaan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) guna membantu penanganan Karhutla.
Namun, pelaksanaan TMC masih menunggu kondisi awan yang memungkinkan untuk dilakukan penyemaian.
“Kami juga sudah memohon kepada Kepala BNPB untuk mendatangkan TMC. TMC-nya sudah ada, cuma sekarang titik awan belum bisa ditaburi oleh garam. Mudah-mudahan dengan kita tetap siaga, kebakaran hutan tidak meluas seperti tahun 2019,” katanya.
Norsan menilai ancaman Karhutla di Kalimantan Barat tidak boleh dianggap remeh. Karena itu, upaya penanganan tidak cukup hanya dilakukan ketika api sudah membesar, tetapi harus dimulai dari pencegahan, deteksi dini hingga pemadaman secepat mungkin.
“Mari kita cegah Kalimantan Barat dari Kebakaran Hutan dan Lahan agar udara tetap bersih untuk kesehatan masyarakat,” tegasnya.
Soroti Pembukaan Lahan dengan Cara Membakar
Dalam rakor tersebut, Norsan juga menyinggung pelaksanaan Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Barat Nomor 1 Tahun 2022 tentang Pembukaan Lahan Perladangan Berbasis Kearifan Lokal.
Ia menjelaskan, aturan tersebut memberikan ruang bagi masyarakat untuk melakukan pembakaran terbatas dalam kegiatan pembukaan lahan, tetapi dengan sejumlah persyaratan yang wajib dipenuhi.
Masyarakat, kata Norsan, harus melaporkan rencana pembakaran kepada kepala desa. Selain itu, lahan yang akan dibakar maksimal dua hektare harus dibuat sekat untuk mencegah api merambat ke area lain.
“Kalau seandainya masyarakat mengikuti apa yang ditentukan dalam Perda itu, yang pertama kalau membakar minimal lapor dulu kepada kepala desa. Kemudian sebelum dibakar, ladang yang dua hektare dibuat sekat dulu, sekat parit, dan tidak meninggalkan api sebelum benar-benar padam,” jelasnya.
Menurutnya, kepatuhan terhadap ketentuan tersebut menjadi salah satu langkah penting untuk mencegah pembakaran lahan berkembang menjadi Karhutla.
“Kalau seandainya itu diikuti aturannya, tidak terjadi kebakaran meluas,” tambahnya.
Kubu Raya, Ketapang dan Mempawah Jadi Perhatian
Norsan menyebut sejumlah wilayah saat ini menjadi perhatian dalam penanganan Karhutla, di antaranya Kabupaten Kubu Raya, Ketapang dan Mempawah.
Wilayah tersebut memiliki kawasan gambut yang cukup luas sehingga membutuhkan perhatian lebih, terutama ketika kondisi cuaca semakin kering.
Kondisi tersebut menjadi semakin penting di tengah periode kemarau. Karena itu, Norsan meminta seluruh pihak meningkatkan pemantauan dan memperkuat koordinasi di lapangan.
“Jangan sampai kita lengah. Kita harus tetap siaga dan melakukan pencegahan sejak dini agar api tidak berkembang dan meluas,” katanya.
Ia menegaskan pemerintah tidak dapat bekerja sendiri dalam menghadapi ancaman Karhutla. Pencegahan membutuhkan keterlibatan masyarakat, perusahaan, pemerintah daerah, aparat keamanan hingga instansi teknis.
“Yang paling penting adalah bagaimana kita bersama-sama mencegah agar api tidak muncul dan kalau ada titik api segera ditangani. Kita tidak boleh lengah, karena kondisi kemarau seperti sekarang sangat mudah menyebabkan api meluas,” pungkas Norsan.












