MEMPAWAH, Infokalbar.com – Pemerintah pusat merespons cepat persoalan banjir di Kabupaten Mempawah. Melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026, Direktorat Jenderal Bina Marga mengerek tinggi badan Jalan Galang.
Proyek vital ini kini memasuki tahap pengerjaan fisik di Desa Galang, Kecamatan Sungai Pinyuh, Kalimantan Barat. Genangan air yang kerap melumpuhkan akses transportasi warga menjadi musuh utama di jalur ini.
Saat hujan deras atau musim pasang tiba, ruas jalan rendah di Desa Galang selalu menjadi langganan banjir.
Kondisi tersebut tidak sekadar menghambat mobilitas, tetapi juga mengancam keselamatan pengguna jalan.
Menjawab keluhan itu, Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Kalimantan Barat mengambil langkah strategis.
Peninggian badan jalan dipilih sebagai solusi permanen. Proyek ini bukan sekadar tambal sulam, melainkan rekayasa fondasi untuk melawan debit air.
Dengan konstruksi yang lebih kokoh dan elevasi yang ideal, ruas vital ini diharapkan steril dari genangan berkepanjangan.
Pengerjaan di lapangan terus dikebut. Alat berat dan personel teknis terlihat hilir mudik memadatkan struktur tanah serta material agregat.
Pemandangan tersebut sontak memicu euforia warga setempat yang puluhan tahun mendamba jalan mulus bebas banjir.
Warga Girang Bersyukur
Semringah warga lokal pecah melihat progres penanganan yang cepat. Seorang pengguna jalan yang rutin melintas mengungkapkan rasa lega sekaligus apresiasinya.
Pemerintah pusat melalui Bina Marga dinilai tidak tinggal diam. Respon taktis ini ibarat oase di tengah kejenuhan warga menghadapi siklus banjir tahunan yang monoton.
“Kami sangat bersyukur, ini bukti negara hadir. Pemerintah lewat Bina Marga gerak cepat meninggikan jalan. Harapan kami ya sederhana, jangan sampai tergenang banjir lagi,” tutur warga setempat dengan wajah semringah hari ini, Jumat, 24 April 2026. Penanganan lebar jalan ini menjadi 13.5m, ditinggikan 1.5m dari jalan eksisting, ketebalan aspal 18.5 cm.
Peninggian badan jalan ini menjadi simbol keberpihakan. Jika dulu warga harus pontang-panting mencari jalur alternatif saat air pasang, ke depan situasi itu diprediksi tinggal sejarah.
Mobilitas logistik pertanian dan perkebunan dari pedalaman menuju pusat kota juga dipastikan lebih efisien. Tidak ada lagi cerita distribusi hasil bumi terhambat karena akses terputus air.
Pacu Ekonomi Lokal
Peningkatan infrastruktur ini bukan cuma soal kenyamanan berkendara. Dampak ekonominya bersifat masif dan berlipat ganda. Konektivitas antarwilayah di Mempawah akan pulih total.
Jalur mulus ini mempersingkat waktu tempuh, memangkas biaya logistik, serta membuka isolasi Desa Galang.
Komitmen APBN 2026 di Kalimantan Barat memang menyasar tantangan geografis yang unik.
Pemerintah pusat tidak ingin kemajuan desa tertahan oleh infrastruktur yang ringkih. Oleh karena itu, percepatan ini diganjar harapan tinggi dari publik.
Warga memproyeksikan geliat usaha mikro, kecil, dan menengah akan bernapas lebih panjang setelah proyek tuntas.
Meski demikian, warga menyelipkan pesan moral. Di balik suka cita pembangunan, mereka mendesak pengawasan super ketat.
Proses pengerjaan harus sesuai spesifikasi teknis tinggi, bukan sekadar mengejar serapan anggaran.
Warga menginginkan kualitas mutu yang bisa diwariskan untuk anak cucu, bukan aspal tipis yang kembali ambles dalam hitungan bulan.
“Jangan sampai proyek cepat selesai tapi cepat rusak. Harus sesuai standar, kami ingin jalan ini awet di lintas zaman,” imbuh tokoh pemuda setempat.
Proyek Desa Galang ibarat napas baru bagi jantung transportasi Mempawah. Jika kualitas terjaga.
Bukan tidak mungkin pola penanganan ini menjadi contoh atau cetak biru penanggulangan banjir jalan nasional di titik-titik rawan lainnya di Indonesia.












