SANGGAU, Infokalbar.com – Sudut sunyi Hotel Hiltop Sanggau Kalimantan Barat mendadak menjelma panggung kejahatan transnasional. Di balik pintu kamar yang rapat, seorang warga negara asing berinisial Mr T asal Tiongkok-China diduga menjalankan pesta pora transaksi emas haram hasil Pertambangan Tanpa Izin.
Operasi senyap Ditreskrimsus Polda Kalbar menyisir lorong hotel, mengunci gerak sang tamu istimewa, lalu menyegel satu babak gelap perdagangan sumber daya alam Borneo. Namun ironisnya, hingga detik ini kebenaran utuh masih tersimpan rapat di balik dinding markas kepolisian.
Kepada Infokalbar.com, Kabid Humas Polda Kalbar Kombes Pol Bambang Suharyono merespons singkat permintaan konfirmasi ihwal penangkapan Mr T.
“Saya cek dahulu ya,” katanya meninggalkan gantungan tanda tanya bagi publik.
Sumber internal kepolisian membisikkan fakta bahwa peristiwa ini bukanlah kejadian kemarin sore. Sabtu, 25 April 2026.
“Kalau tidak salah, udah lama penangkapan itu. Beberapa bulan yang lalu,” tutur sumber yang menolak identitasnya disebut.
Pernyataan ini justru menebalkan misteri: mengapa pengungkapan kasus sekelas ini seolah ditelan bumi?
Ranjang Hotel Bertabur Uang Panas
Detail paling mengusik nalar terkuak saat petugas menggeledah kamar. Ruangan yang semestinya menjadi tempat merebahkan lelah berubah fungsi menjadi meja hitung uang haram.
Bongkahan emas curian dari perut bumi Kalimantan ditemukan bersanding dengan tumpukan uang tunai dalam denominasi mencengangkan.
“Miliaran itu uang barang buktinya,” bisik sumber yang sama melalui sambungan telepon, nadanya turun setengah oktaf.
Angka fantastis ini bukan sekadar retorika. Ia adalah potret pahit bahwa industri kotor PETI di Sanggau telah bermetamorfosis menjadi kapital raksasa.
Uang miliaran yang tersita adalah saksi bisu betapa peredaran dana ilegal ini sanggup menyogok logika sekaligus merusak tatanan lingkungan.
Pasar Global di Balik Tirai Hotel
Sosok Mr T menjadi kunci teka-teki. Kehadirannya membuktikan bahwa hasil jarah lingkungan Kalimantan telah menembus pasar global.
Para pelaku tak lagi mengoperasikan tambang liar di hutan dengan peralatan seadanya. Mereka telah naik kasta: bertransaksi di balik dinginnya AC hotel, lengkap dengan koper-koper uang yang siap pindah tangan.
Inilah metamorfosis kejahatan sumber daya alam—dari lumpur sungai ke karpet hotel.
Hingga kini, Ditreskrimsus Polda Kalbar masih membisu. Siapa sejatinya Mr T? Seberapa luas jaringan yang bermain? Kepada siapa lagi uang miliaran itu hendak mengalir?
Seluruh pertanyaan krusial ini tersimpan rapat di ruang penyidik. Keheningan aparat menciptakan dua sisi mata pedang profesionalisme di satu sisi, godaan spekulasi liar di sisi lain.
“Koordinasi langsung ke Krimsus Polda Kalbar aja. Yang menangani bukan kami. Nanti cari info dulu,” pintanya, meninggalkan jejak samar yang justru mempertegas betapa seriusnya perkara ini.
Di Kabupaten Sanggau, para penjarah emas kini tak lagi bisa tidur nyenyak di ranjang hotel.
Bom waktu telah meledak, menyisakan pertanyaan menggantung mungkinkah ini hanyalah operasi permukaan dari gunung es mafia emas Kalimantan?
Ataukah para perampok sumber daya alam ini telah memiliki tameng terlampau tebal?
Uang miliaran itu diam, namun kisahnya memekakkan telinga. Para pemangku kepentingan ditunggu bersuara.












