KASUS Aspal Ajaib Bengkayang, Beton Puluhan Miliar Rontok Sebelum Lunas

Kasus proyek jalan Siding Bengkayang Kalimantan Barat viral. Beton puluhan miliar rupiah mendadak lebih mirip permukaan bulan. Pahitnya infrastruktur negeri ini.
Kasus proyek jalan Siding Bengkayang Kalimantan Barat viral. Beton puluhan miliar rupiah mendadak lebih mirip permukaan bulan. Pahitnya infrastruktur negeri ini.

BENGKAYANG, Infokalbar.com – Sebuah mahakarya arsitektur futuristik tanpa sengaja tercipta di Kecamatan Siding, Kabupaten Bengkayang Kalimantan Barat.

Proyek peningkatan ruas jalan dengan anggaran puluhan miliar rupiah dari APBD, hanya dalam hitungan tahun, telah sukses bertransformasi menjadi replika permukaan bulan paling akurat di Kalimantan Barat.

Prestasi ini sontak membuat Badan Antariksa Amerika (NASA) iri, lantaran tak perlu roket untuk mensimulasikan gravitasi rendah, cukup bawa kendaraan bak terbuka.

Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Bengkayang selaku pengawas proyek, tampaknya diam-diam mendalami ilmu geologi ekstrim.
Bagaimana tidak, aspal mulus senilai fantastis itu kini raib, berganti kawah-kawah alami.

Laporan resmi dari seorang narasumber misterius—sebut saja Deep Throat ala Siding yang enggan wajahnya terpampang di bak truk tangkapan, menyebutkan proyek ini telah dilaporkan ke Dirkrimsus Bidang Tipikor Polda Kalbar sejak Jumat (12/06/2026).

Laporan kasus itu bukan perkara korupsi biasa, melainkan dugaan kuat adanya praktik sulap tingkat tinggi mengubah agregat batu dan aspal menjadi lumpur dan ilusi.

Konspirasi Lubang Cuan

Narasumber yang identitasnya kami rahasiakan bak resep bumbu pecel itu berbisik lirih, penuh kepiluan. “Ini bukan sekadar kerusakan, ini evolusi. Aspalnya seolah belajar hibernasi,”

Fakta di lapangan berbicara lebih pedas. Jalan yang seharusnya menjadi urat nadi perekonomian warga ini, kini lebih mirip ladang ranjau.

Kerusakan parah dan lubang menganga di mana-mana menjadi pemandangan jamak. Lebih ironis lagi, tambal sulam aspal di atas lubang lama justru tumbuh subur bagai jamur di musim hujan.

Komposisi aspal tampaknya dicampur zat mudah menguap, sebab volumenya menyusut drastis begitu serah terima proyek tuntas.

Warga lokal harus memiliki skill mengemudi ala pembalap reli untuk menghindari kawah.

Jika tidak, siap-siap biaya servis suspensi membengkak melebihi biaya hajatan. Fenomena ini memunculkan istilah baru dalam kamus teknik sipil Bengkayang “Aspal Termahal dengan Masa Pakai Terefisien di Dunia.”

Pantas saja proyek ini cepat sekali menelan puluhan miliar. Uangnya diduga kuat dipakai untuk biaya teleportasi material aspal ke dimensi lain, sehingga fisiknya tak tersisa di lokasi.

Dengan nada putus asa khas rakyat kecil, sang narasumber menitipkan doa dan harapan setinggi gunung Niut.

Ia meminta aparat penegak hukum tidak sekadar membaca laporan ini di balik meja.

“Kami mohon, turunlah ke lapangan. Jangan kirim drone, kirim manusia. Lihat, raba, dan rasakan sendiri sensasi berkendara di atas proyek senilai puluhan miliar terasa seperti naik odong-odong rusak,” tuturnya.

“Kami serahkan semua bukti, tinggal aparat tinggal membawa penggaris dan palu geologi,” ucapnya mengakhiri orasi pilu.

Publik kini menanti, apakah laporan ini akan membuat para aparat datang dengan seragam kebesaran dan alat berat pendeteksi kriminal.

Atau justru sang Arsitek Lunar dari dinas terkait akan mendapat penghargaan inovasi daya tahan aspal terpendek se-Asia Tenggara.

Fenomena Siding adalah bukti nyata, bahwa di negeri ini, kemahalan anggaran selalu berbanding terbalik dengan ketahanan infrastruktur.

Sebuah kasus matematika yang hanya bisa dijelaskan oleh para seniman anggaran brilian.

Tunggu saja. Apakah lubang-lubang itu akan menguap lagi bersama kabut pagi, atau justru menyeret sejumlah nama ke dalam kawah pertanggungjawaban.