Berita  

Sri Mulyani: Biaya Penanganan Climate Change Butuh Dana Rp 3.700 T

Climate change atau perubahan iklim.
Keterangan foto: Climate change atau perubahan iklim. (Ilustrasi/Istimewa)

JAKARTA, infokalbar.com – Menteri Keuangan RI, Sri Mulyadi Indrawati pernah menyatakan, bahwa terdapat ancaman besar lainnya di dunia saat ini–selain pandemi Covid-19–yakni climate change atau perubahan iklim.

Dikutip CNBCIndonesia.com, bahkan untuk penanganan ancaman perubahan iklim tersebut, dikatakan Sri Mulyani membutuhkan dana kurang lebih Rp 3.700 triliun sampai 2030 mendatang.

Ia mengungkapkan, bahwa masing-masing negara memiliki tanggung jawab yang sama dalam mengantisipasi perubahan iklim, termasuk Indonesia.

“Kita memperjuangkan hak negara emerging untuk memperbaiki kemakmuran tanpa terbebani tidak adil. Take and give jadi penting,” ujarnya dalam sebuah webinar, dikutip Rabu (11/08/2021).

Lebih lanjut, Sri Mulyani mengatakan, komitmen dalam mengantisipasi perubahan iklim tanpa pendanaan tidak akan bisa dijalankan.

“Bagaimana kita bisa mendesain policy sehingga kerja sama bisa menerjemahkan sehingga financing gap bisa dipenuhi DNA komitmen climate change bisa dicapai,” ujarnya.

“Kalau kita mau menurunkan CO2 40% maka kebutuhan US$ 479 billion. Jadi ini tantangan bagaimana policy kita bisa menghasilkan platform kerja sama yang kredibel,” katanya. 

Dalam kesempatan lain, Sri Mulyani juga mengungkapkan, isu climate change ini sudah diteliti oleh banyak ilmuwan di seluruh dunia. Dimana “mereka semua” sepakat bahwa perubahan iklim ini adalah hal yang tak bisa dihindari oleh semua negara.

“Sama dengan pandemi, tak ada satu negara yang bisa terbebas dari ancaman climate change. Bahkan sama seperti pandemi, negara yang tidak siap di sisi kesehatan dan kemampuan fiskal dan sisi disiplin apalagi kemampuan untuk mendapatkan vaksin mereka mungkin akan terkena paling berat dampaknya dari pandemi,” paparnya.

Untuk itu, ia menyatakan, seluruh negara di dunia harus mempersiapkan kebijakan untuk memitigasi dampak climate change ini. Hal ini demi menghindari dampak katastropik (malapetaka besar yang datang secara tiba-tiba, red) dari perubahan iklim. (FikA)

Leave a Reply

Your email address will not be published.