EDAN! Kasus Pembobolan Bank Kalbar Mulai Rp17 Miliar di Karangan Hingga Ratusan Juta di Bengkayang

Berdasarkan laporan yang diterima, empat Kantor Cabang Bank Kalbar mengalami kebocoran dana dengan total kerugian mencapai Rp 27,3 miliar!
Berdasarkan laporan yang diterima, empat Kantor Cabang Bank Kalbar mengalami kebocoran dana dengan total kerugian mencapai Rp 27,3 miliar!

KARANGAN, Infokalbar.com – Pemandangan hari itu, sungguh epik! Bukan hanya deretan pejabat berdasi yang biasa lalu-lalang.

Namun kali ini, panggung utama diduduki oleh para “pahlawan tanpa tanda jasa” dari Aliansi Masyarakat Peduli Kalimantan Barat.

Mereka hadir dengan atribut kebesaran—bendera Merah-Putih yang berkibar seolah mengeluhkan nasib rupiah, baliho yang menjeritkan tuntutan.

Banner yang mengusung asa, serta pengeras suara yang entah mengapa terdengar seperti tangisan pilu para nasabah yang dananya entah ke mana.

Mereka datang, bukan untuk merayakan ulang tahun kemerdekaan, tapi untuk mengingatkan sang Gubernur Kalimantan Barat, Ria Norsan, bahwa ada BUMD yang sedang sakit parah, bahkan mungkin sakratul maut.

Bayangkan saja, di tengah teriknya matahari Pontianak yang seringkali membakar kulit, para demonstran ini tak gentar.

Mereka adalah para pejuang kebenaran yang datang dengan niat mulia: meminta pembenahan dan evaluasi total terhadap sebuah entitas yang seharusnya menjadi penjaga pundi-pundi rakyat, bukan justru menjadi lubang hitam tanpa dasar.

Bukankah ini ironis? Sebuah bank, simbol kepercayaan dan stabilitas finansial, kini justru menjadi simbol dari keruwetan tak berkesudahan.

Rokidi dan Misteri Surat Pengunduran Diri

Di tengah pusaran badai ini, muncullah sebuah nama yang menjadi sorotan utama, Rokidi. Konon, sang Direktur PT Bank Pembangunan Daerah Kalimantan Barat ini telah mengajukan surat pengunduran diri pada tanggal 27 Maret 2025.

Ah, sebuah gestur yang begitu elegan, bukan? Mundur di kala riuh, seolah memberikan isyarat bahwa “saya bukan bagian dari kekacauan ini, saya hanya ingin menepi dari drama yang sedang berlangsung.”

Namun, Korlap Aksi, Sahroni, dengan lugas bak jaksa penuntut umum di panggung rakyat, membuka tabir di balik pengunduran diri yang terkesan mendadak itu.

Menurut dia, kepergian Rokidi tak lepas dari “buruknya tata kelola” Bank Kalbar selama masa kepemimpinannya.

Bayangkan, tata kelola yang buruk! Bukankah ini seperti seorang koki yang jago membakar masakan daripada memasaknya?

Sebuah ironi yang membuat perut terasa mual, bukan karena lapar, tapi karena keprihatinan yang mendalam.

Sahroni tak berhenti di situ. Dengan suara lantang yang memecah keheningan, ia menyingkap borok-borok finansial yang konon merugikan nasabah dan, tentu saja, mengerogoti keuangan daerah.

“Salah satunya,” ujarnya, “terkait keamanan dan kredibilitas Bank Pembangunan Daerah Kalimantan Barat yang menjadi sorotan setelah terungkapnya serangkaian kasus pembobolan dana yang diduga melibatkan pegawai internal.”

“Diduga melibatkan pegawai internal”, sebuah frasa yang sungguh memancing imajinasi!

Apakah ini semacam drama mata-mata di mana agen ganda bekerja sama dengan hantu-hantu finansial untuk menguras brankas?

Atau jangan-jangan, ini hanyalah sebuah kecelakaan murni yang disebabkan oleh sistem yang, yah, mari kita sebut saja, “terlalu santuy” dalam menjaga pundi-pundi rakyat?

Saga Pembobolan Dana

Dan inilah dia, bagian yang paling menggetarkan jiwa dan menguras dompet (tentu saja, bukan dompet kita, melainkan dompet Bank Kalbar).

Berdasarkan laporan yang diterima, empat Kantor Cabang Bank Kalbar mengalami kebocoran dana dengan total kerugian mencapai Rp 27,3 miliar!

Ya, Anda tidak salah baca. Dua puluh tujuh koma tiga miliar rupiah! Angka yang cukup untuk membangun beberapa jembatan, menyantuni ribuan fakir miskin, atau mungkin membeli beberapa jet pribadi (tentu saja, untuk kepentingan rakyat, bukan untuk siapa-siapa).

Mari kita rinci “prestasi” ini dengan saksama, agar kita semua bisa merasakan getaran kekaguman yang sama:

  1. Kantor Cabang Pembantu Karangan, Kabupaten Landak: Konon, di sinilah “masterpiece” pembobolan terjadi. Rp 17 miliar lenyap bagai ditelan bumi.
  2. Apakah ada lubang hitam di sana? Ataukah kasir-kasirnya memiliki kekuatan gaib untuk mengubah uang menjadi udara? Sebuah misteri yang patut diusut oleh para detektif keuangan sekelas Sherlock Holmes.
  3. Kantor Cabang Singkawang, Kota Singkawang: Kota Seribu Kelenteng ini juga tak luput dari sentuhan magis keuangan. Rp 6 miliar menghilang begitu saja. Mungkin saja, uang itu berubah menjadi pernak-pernik Imlek yang indah dan mahal. Siapa tahu?
  4. Kantor Cabang Pemangkat, Kabupaten Sambas: Di sini, Rp 4,2 miliar melayang tanpa jejak. Apakah uang itu tersapu ombak pantai yang indah di Pemangkat? Atau mungkin saja, ia berlayar ke negeri antah berantah menggunakan perahu nelayan? Sebuah teka-teki yang menuntut jawaban.
  5. Kantor Cabang Bengkayang: Paling “sedikit” namun tetap “menggila”, Rp 100 juta menguap. Mungkin uang ini hanya digunakan untuk membeli kopi dan gorengan pegawai selama setahun penuh. Atau mungkin juga, ini adalah “uang receh” yang terlewatkan dari kasus-kasus besar sebelumnya.

“Kasus-kasus ini,” Sahroni menambahkan dengan nada yang penuh keprihatinan, “menimbulkan pertanyaan besar terhadap sistem pengawasan internal di Bank Kalbar.” Pertanyaan besar?

Ini bukan lagi pertanyaan, ini adalah jeritan histeris yang menuntut pertanggungjawaban! “Lemahnya kontrol dan kurangnya implementasi prinsip kehati-hatian menjadi faktor utama di balik kebocoran dana yang begitu besar.”

Ah, sebuah diagnosa yang begitu jujur! Lemahnya kontrol, bagaikan seorang penjaga gawang yang terlalu sibuk bermain TikTok saat bola masuk ke gawang. Dan prinsip kehati-hatian? Mungkin saja prinsip itu sedang cuti panjang, atau bahkan sudah pensiun dini.

“Pihak manajemen gagal memastikan sistem pengawasan yang efektif,” tegasnya. Gagal memastikan? Ini bukan kegagalan biasa, ini adalah kegagalan epik yang seharusnya dicatat dalam buku rekor dunia.

“Padahal, dalam industri perbankan, keamanan transaksi dan pengelolaan risiko merupakan aspek krusial yang tidak boleh diabaikan.” Betul sekali, Sahroni!

Ini seperti mengatakan bahwa dalam bedah jantung, kebersihan alat bedah adalah hal yang krusial. Sebuah kebenaran universal yang seolah-olah terlupakan di Bank Kalbar.

Sebuah Orkestra Harapan di Tengah Kegelapan Finansial

Di akhir pertunjukan drama ini, Sahroni membacakan “manifesto revolusi” dari Aliansi Masyarakat Peduli Kalimantan Barat. Sebuah orkestra harapan yang menuntut keadilan dan perbaikan:

Mendorong Gubernur Kalbar Ria Norsan untuk Menindaklanjuti Surat Pemunduran Diri Dirut Bank Kalbar

Ini bukan lagi sekadar mendorong, ini adalah tendangan keras agar surat itu tidak berakhir di tumpukan dokumen yang terlupakan.

Surat pengunduran diri seharusnya menjadi pintu gerbang menuju evaluasi, bukan sekadar basa-basi administratif.

Mendorong Gubernur Memperbaiki Tata Kelola BUMD khususnya Bank Kalbar agar lebih baik kedepannya

“Lebih baik kedepannya” adalah frasa yang sungguh mengharukan. Mungkinkah ada harapan untuk Bank Kalbar ini? Atau jangan-jangan, “lebih baik kedepannya” hanyalah sebuah utopia manis di tengah lautan masalah?

Mendesak Gubernur Kalbar adanya audit independen terhadap kinerja keuangan dan manajemen Bank Kalbar sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas publik.

Ah, audit independen! Sebuah kata ajaib yang bisa mengungkap segala borok tersembunyi.

Transparansi dan akuntabilitas publik adalah mantra sakti yang harus diucapkan berulang kali sampai benar-benar meresap ke dalam sanubari para pejabat.

Menuntut Gubernur Kalbar untuk memastikan pengisian jabatan strategis di Bank Kalbar dilakukan secara terbuka, transparan, dan berdasarkan kompetensi, bukan karena kepentingan politik atau kelompok tertentu.

Ini adalah pukulan telak bagi praktik-praktik “titip-menitip” dan “bagi-bagi kue jabatan” yang seringkali terjadi di institusi publik. Kompetensi, bukan koneksi! Sebuah idealita yang seringkali hanya menjadi dongeng pengantar tidur.

Menuntut Gubernur Kalbar memberikan penjelasan resmi kepada publik terkait dinamika yang terjadi di Bank Kalbar agar tidak menimbulkan spekulasi negatif dan menjaga kepercayaan masyarakat.

Penjelasan resmi? Ya, Pak Gubernur, kami menunggu! Bukan sekadar kata-kata manis di media.

Tapi sebuah penjelasan yang transparan, yang tidak membingungkan, dan yang bisa mengembalikan kepercayaan masyarakat yang kini mungkin sudah tergerus habis, bak pasir yang terbawa arus.

Ini adlah ebuah kisah yang tak hanya tentang angka-angka dan kerugian finansial, melainkan juga tentang drama kemanusiaan.

Ini tentang kepercayaan yang dikhianati, dan tentang perjuangan tanpa henti untuk sebuah tata kelola yang lebih baik.

Apakah Bank Kalbar akan bangkit dari keterpurukan ini? Atau akankah ia menjadi legenda kelam tentang sebuah bank daerah yang akhirnya terjerembab dalam lubang hitam komedi tragis?

Hanya waktu, dan tentu saja, aksi nyata dari para pemangku kebijakan, yang akan menjawabnya. (ARP)