JERUJU, Infokalbar.com – Udara Sabtu pagi itu menggantungkan kabar-kabar kecil di antara teguk kopi dan senyum yang saling berbalas.
Di sebuah sudut, di bawah langit yang baru saja melepas tidurnya, duduklah seorang lelaki dengan sorot mata yang tak pernah padam: Burhanudin Abdullah, Sang Ketua Umum Laskar Anti Korupsi Indonesia (LAKI).
Dia tidak sendiri. Di hadapannya, duduk para pejuang lain—wajah-wajah yang telah lama akrab dengan debu perang melawan korupsi.
Mereka saling bertatap, bercerita, dan sesekali tertawa. Tapi jangan salah: di balik kehangatan itu, tersimpan amunisi yang siap meledak.
“LAKI sejak tahun 2010 telah berjalan berdampingan dengan Kejaksaan Agung. Ini bukan sekadar kerja sama, tapi ikrar suci,” ujar Burhanudin, suaranya menggelegar meski tak perlu tinggi.
Kalimat itu bukan retorika. Ia adalah manifestasi dari 15 tahun pertempuran tanpa henti—sebuah perang suci melawan para perampok uang rakyat.
KORUPSI? HARGA MATI. TANPA AMPUN
Burhanudin Abdullah bukan tipe orang yang gemar berkompromi. Baginya, korupsi adalah penyakit ganas yang harus dibakar sampai ke akar-akarnya.
“Belas kasih untuk koruptor? Tidak ada. Mereka sudah merampas hak anak-anak yang kelaparan, merampas mimimi kakek-kakek yang antri BPJS, merampas masa depan bangsa,” katanya, dengan nada yang membuat bulu kuduk berdiri.
LAKI, di bawah komandonya, telah menjadi anjing penjaga yang tak pernah lelah menggonggong.
Sejak 2010, mereka bekerja sama dengan Kejaksaan Agung, membongkar puluhan kasus korupsi, mengusut tuntas, dan memastikan bahwa keadilan bukan sekadar kata-kata di atas kertas.
KAMI TIDAK AKAN BERHENTI, SAMPAI NAPAS TERAKHIR
Pertemuan di Jeruju City itu bukan sekadar coffee morning biasa. Ia adalah ritual penguatan, sebuah pengingat bahwa perang masih panjang.
“Kami akan terus bergerak, sampai koruptor terakhir terjungkal di penjara,” tegas Burhanudin.
Dan ketika percakapan usai, mereka pun beranjak pergi—kembali ke medan laga masing-masing.
Langkah mereka tegas, tak ada keraguan. Karena di negeri ini, masih ada orang-orang yang berani memilih jalan sunyi melawan arus, melawan keserakahan, melawan lupa. (Wawan Daly Suwandi)












