KOTA PONTIANAK, Infokalbar.com – Di atas Kota Pontianak, langit menggantungkan gumpalan awan kelabu. Sebuah lukisan alam yang muram, seolah-olah mengisyaratkan sebuah jeda dari hingar-bingar kehidupan.
Namun, di balik tirai mendung itu, ada sebuah semangat yang tak pernah luntur, sebuah langkah yang tak pernah surut.
Adalah Plt Ketua PWI Kalbar, Wawan Suwandi, bersama para pengurusnya yang dengan tegar menerobos batas-batas keterbatasan, menyongsong sebuah pertemuan yang sarat makna.
Pada hari itu, hari Kamis, 14 Agustus 2025, menjadi saksi bisu terukirnya sebuah kisah.
Sebuah kisah tentang silaturahmi yang tulus, tentang persatuan yang kuat, tentang tekad yang bulat.
Merekam jejak langkah itu, Wawan Suwandi bersama rombongannya, memasuki ruang audensi yang agung, berhadapan dengan sosok panutan, Ketua DPRD Provinsi Kalimantan Barat, Aloysius SH M.Si.
Ruangan itu, seolah-olah menjadi panggung bagi sebuah pertunjukan, sebuah drama kemanusiaan yang memesona.
Di sana, kata-kata tak hanya sekadar deretan huruf, melainkan sebuah melodi, sebuah simfoni yang mengalunkan nada-nada kebersamaan.

Pertemuan ini, bukanlah sekadar formalitas, melainkan sebuah perayaan, sebuah penghormatan terhadap nilai-nilai luhur yang selama ini menjadi pondasi bagi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kalimantan Barat.
Merajut Solidaritas, Menghalau Keretakan
“Ini bagian dari prosesnya. Bahwa silaturahmi itu penting,” bisik Wawan Suwandi, suaranya terdengar lembut namun penuh dengan keyakinan.
Kata-kata itu, seolah-olah menjadi mantra, menjadi pengingat bagi semua yang hadir, bahwa di tengah badai kehidupan, di tengah riuhnya suara-suara yang saling bersahutan, silaturahmi adalah jangkar yang menahan kita dari keterombang-ambingan.
Ia adalah benang merah yang mengikat, merajut setiap hati, setiap pikiran, menjadi sebuah kesatuan yang kokoh.
Dalam balutan momen kehangatan itu, terukir sebuah janji. Sebuah janji untuk merapikan barisan, untuk menguatkan pondasi, untuk menjaga kesolidan.
“Tentunya ini juga jadi langkah kedepan merapikan kesolidan antar sesama. Baik itu anggota PWI Kalbar, pemerintah, dan swasta yang ada di Kalbar,” lanjut Wawan.
Kalimat ini, seolah-olah menjadi sebuah deklarasi, sebuah proklamasi, bahwa PWI Kalbar, bukanlah sekadar sebuah organisasi, melainkan sebuah keluarga besar.
Sebuah keluarga yang tidak hanya berdiri untuk dirinya sendiri, melainkan juga untuk masyarakat, untuk pemerintah, untuk semua pihak yang memiliki mimpi yang sama membangun Kalimantan Barat yang lebih baik.
Dari UKW hingga Kongres Sebuah Janji dan Harapan
Momen yang penuh dengan kehangatan kekeluargaan itu, tak hanya menjadi ajang untuk bersilaturahmi.
Ia juga menjadi panggung bagi Aloysius, sang Ketua DPRD, untuk menyampaikan beberapa hal penting.
Kata-katanya, mengalir bagai air sungai, jernih dan penuh dengan makna. Ia menyoroti beberapa agenda penting, beberapa harapan, yang seolah-olah menjadi lentera, menerangi jalan yang terjal di depan mata.
Di antara bisikan-bisikan itu, terukir sebuah dukungan yang tulus.
Sebuah dukungan untuk pelaksanaan Uji Kompetensi Wartawan (UKW) yang akan diselenggarakan pada 21-23 Agustus 2025 di Gedung Nusantara PLBN Entikong.
UKW, bukanlah sekadar sebuah ujian, melainkan sebuah ritual, sebuah inisiasi bagi para jurnalis, untuk menguji, mengasah, dan menguatkan kompetensi mereka.
Ia adalah sebuah pintu gerbang, yang akan membawa para jurnalis, menuju ke tingkatan yang lebih tinggi, menuju ke panggung yang lebih luas.
Tak hanya itu, Aloysius juga memberikan dukungan penuhnya untuk kegiatan Kongres Persatuan PWI 2025 yang akan digelar pada 29-30 Agustus mendatang.
Kongres, bukanlah sekadar sebuah pertemuan, melainkan sebuah perhelatan akbar, sebuah festival bagi para pegiat pers, untuk berkumpul, berdiskusi, dan merumuskan langkah-langkah strategis untuk masa depan.
Ia adalah sebuah momen untuk mengukir sejarah, untuk mengukuhkan tekad, untuk menjaga marwah, dan untuk meneruskan perjuangan para pendahulu.
Namun, di balik semua dukungan itu, terselip sebuah peringatan, sebuah nasihat yang bijaksana.
“Menjadi wartawan memang tidak mudah saat ini, maka dari itu kualitas dan etik tetap yang utama. Apalagi di tengah era AI,” bisik Aloysius, suaranya terdengar serius namun penuh dengan kehangatan.
Kata-kata itu, seolah-olah menjadi sebuah cermin, yang memantulkan bayangan kita, memaksa kita untuk merenung.
Di era di mana kecerdasan buatan (AI) mulai merambah ke setiap lini kehidupan, etika dan kualitas, bukanlah sekadar sebuah pilihan, melainkan sebuah keharusan.
Mereka adalah benteng terakhir, yang akan melindungi kita dari badai disinformasi, dari gelombang hoaks, dari pusaran kebohongan.
Menyulam Harapan, Merajut Asa
Di akhir pertemuan yang penuh makna itu, sebuah janji terukir. Sebuah janji untuk pers yang lebih baik.
PWI Kalbar dan DPRD Kalbar, seolah-olah menyatukan visi, menyamakan misi, untuk bersama-sama menyulam harapan, merajut asa, demi masa depan pers dan masyarakat yang lebih cerah.
Mereka sadar, bahwa pers, bukanlah sekadar sebuah profesi, melainkan sebuah panggilan.
Sebuah panggilan untuk menjadi suara bagi yang tak bersuara, untuk menjadi mata bagi yang tak melihat, untuk menjadi telinga bagi yang tak mendengar.
Dan di bawah langit Pontianak yang masih mendung, terukir sebuah pemandangan yang mengharukan.
Dua lembaga, yang selama ini seolah-olah berdiri di atas panggung yang berbeda, kini berhadapan, berdampingan, menyatukan langkah, menguatkan tekad.
Mereka sadar, bahwa di tengah perbedaan, ada sebuah kesamaan. Di tengah perdebatan, ada sebuah kesepakatan. Dan di tengah persaingan, ada sebuah persaudaraan.
Biarlah cerita ini, menjadi sebuah inspirasi, bagi kita semua. Bahwa di balik setiap awan mendung, selalu ada sinar mentari yang menunggu.
Bahwa di balik setiap tantangan, selalu ada kesempatan yang tersembunyi.
Dan bahwa di balik setiap pertemuan, selalu ada sebuah kisah, yang akan terus menginspirasi, dan menggerakkan. (M Tasya)












