PARAH!! PT GKM/HPI Agro Djarum Grup Racuni Nadi Air Sekayam Kalimantan Barat, Warga Muntah

PT GKM alias PT Hartono Plantation Indonesia (HPI Agro) Djarum Grup kembali diduga buang limbah sawit ke Sungai Nip, Ribih, Setogor hingga Sekayam. Janji lestari bertabrakan realita air beracun.
PT GKM alias PT Hartono Plantation Indonesia (HPI Agro) Djarum Grup kembali diduga buang limbah sawit ke Sungai Nip, Ribih, Setogor hingga Sekayam. Janji lestari bertabrakan realita air beracun.

SEKAYAM, Infokalbar.com – Di tanah Borneo sisi barat, tepat di tikungan Kecamatan Sekayam, Kabupaten Sanggau Kalimantan Barat, sebuah ironi berkelas dunia sedang dipentaskan ulang.

Lakonnya sama korporasi adidaya melawan warga pinggir kali. Panggungnya adalah aliran Sungai Nip, Sungai Sei Ribih, serta Sungai Setogor.

Tiga arteri air tawar ini konon menjadi saluran buangan tak resmi bagi PT Hartono Plantation Indonesia (HPI Agro) entitas yang dulu menyebut diri PT Global Kalimantan Makmur (GKM) .

Narasi resmi perusahaan nan gemerlap menyebut entitas ini bagian dari Djarum Grup. Ya, grup milik taipan keluarga Hartono itu.

Mereka empunya Bank BCA, pemilik Blibli, serta pewaris tahta rokok kretek nasional. Di sektor agrobisnis, mereka mengeklaim diri sebagai pionir sawit lestari.

Sayang, klaim lestari itu rupanya karam sebelum tiba di muara.

Busa Hitam Kiri Kanan

Data lapangan menyebut limbah cair pabrik kembali dialirkan terang-terangan ke Sungai Nip. Anak sungai ini bukanlah selokan belakang rumah kosong.

Ia urat nadi yang menyuplai kehidupan Sungai Sekayam, sungai utama tumpuan air bersih, cuci, hingga kakus warga perbatasan.

Jika Sungai Sekayam diibaratkan aorta, maka Nip, Ribih, dan Setogor adalah pembuluh kapiler yang kini tersumbat racun pekat.

Warga sekitar bukan tanpa daya amat. Mereka punya memori kolektif kuat soal masa nuba (meracun ikan pakai akar tuba).

Namun beda hal jika meracun dilakukan pabrik dengan teknologi canggih tanpa izin hati nurani.

Seorang tetua dusun, dengan nada getir berseloroh saat mendapati pemberitaan media menyebut sungai masih sehat serta muncul ikan gabus.

Ia mengutip lirih, “Kira mereka mudahkah menumbuhkan ikan baong dan gabus? Kalau tiba-tiba ikan bermunculan begini, jadi teringat masa nuba dulu.

Bedanya, dulu kami pakai tuba alami, sekarang dikasih tuba pabrik gratisan.”

Sindiran ini bukan tanpa dasar empiris. Seorang warga lain, dengan mimik jengah mendalam, menimpali lebih vulgar, “Jangankan ikan baong. Manusianya aja ogah nyelam. Ngapain nyelam? Mau ikut-ikutan jadi limbah?”

Fakta menohok terletak pada klaim korporat. Di atas kertas, PT Hartono Plantation Indonesia (HPI Agro) adalah primadona agrobisnis.

Laman resmi mereka berhiaskan janji manis keberlanjutan, ketaatan pada standar Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO), serta transformasi bisnis hijau.

Dengan lebih dari 30 estate serta 6 pabrik kelapa sawit (PKS), entitas ini mesin uang dahsyat di Kalimantan Barat.

Namun, ada aib terselip dari masa lalu hingga kini. Pada 2018 silam, audit serta laporan independen menyebut tegas Baik Djarum maupun HPI Agro bukan anggota RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil).

Lebih parah lagi, tidak ada kebijakan publik NDPE (No Deforestation, No Peat, No Exploitation).

Ironi modern Perusahaan dengan saham mengaliri jet pribadi Hartono tak sudi meneken pakta sederhana berhenti merusak gambut serta mengeksploitasi manusia.

Kini, dugaan pencemaran berulang. Kolam limbah semestinya jadi pusat pengolahan mutakhir justru diduga jadi sumber pipa LA diam-diam menyusup ke dasar sungai. Pola ini bukan modus operandi baru. Ini residivisme ekologis.

Dua standar ganda membuat bulu kuduk merinding. Gengsi korporasi vs realita Got: Grup Djarum simbol high class bisnis Indonesia.

Mereka kelola dana triliunan nasabah BCA. Namun di pelosok Sanggau, limbah cairnya tak lebih dari air got berbau busuk mengotori sawah serta sungai warga.

Potret kesenjangan akut. Cuan dibawa ke Jakarta, racun ditinggal di Kalimantan.

Pembiaran Sistematis. Warga bosan melapor. Mereka minta aparat berwenang tak sekadar datang, foto-foto, lalu pulang.

Ini jeritan kebosanan atas penegakan hukum seringkali jadi macan ompong di depan pemodal besar.

Sungguh menggelikan, di tengah gempuran limbah membuat air sungai berubah warna serta aroma, ada media (entah dibayar atau sekadar salah lihat) menulis di sungai muncul ikan gabus.

Sejak kapan ikan gabus jadi ikon eco-friendly? Ikan gabus predator kuat bisa bertahan di air berlumpur minim oksigen.

Ia bertahan bukan karena air bersih, melainkan karena punya labirin insang tambahan bernapas di lumpur.

Jika parameter kebersihan sungai mengandalkan ikan gabus serta baong, selokan comberan Jakarta pun layak disebut taman safari air tawar.

Klaim keberlanjutan tidak terdaftar RSPO, tidak punya kebijakan NDPE hingga kini, mengandalkan ISPO (standar wajib pemerintah, bukan premium pasar global).

Peristiwa ini antitesis sempurna jargon “Sustainable Palm Oil” dikampanyekan lewat iklan mahal.

Ketika dunia (terutama Uni Eropa) makin ketat memberlakukan EUDR (EU Deforestation Regulation), ulah perusahaan sekaliber Djarum Grup di Sekayam bisa jadi bumerang citra sawit nasional.

Sungguh lucu jika ribuan triliun aset Grup Djarum di BCA tercoreng gara-gara pipa limbah ilegal di dusun terpencil.

Namun begitulah paradoks kapitalisme Indonesia. Lebih mudah mengelola 30 estate ketimbang menahan nafsu buang hajat limbah sembarangan.

Warga Sekayam tak butuh retorika ISPO. Mereka butuh air tak membuat kulit gatal serta ikan tak berbau minyak hitam.

Mereka rindu masa sebelum Djarum menanam sawit, masa saat Sungai Sekayam masih murni dan ikan semah (Tor douronensis) bebas berenang tanpa bertarung melawan Chemical Oxygen Demand (COD) limbah pabrik.

Kasus besar ini menukik menusuk, namun tanpa kebencian personal. Ia lahir dari cinta pada tanah serta air Kalimantan.

Jika PT HPI Agro Djarum Grup benar jagoan dan ulung di bidang bisnis, tunjukkan kejagoan mengelola limbah setangguh mengelola laba.

Jangan sampai sejarah mencatat, di era modern ini, ada sungai bernama Sekayam mati suri bukan karena alam, melainkan karena tumpahan duit Hartono tak tahu diri.