POTIANAK, Infokalbar.com – Lautan informasi digital kini berubah menjadi panggung sandiwara komedi getir. Kota Pontianak, Kalimantan Barat, mendadak menjadi sorotan dunia maya lewat narasi liar infrastruktur Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Proyek sanitary landfill beserta jalan akses senilai Rp17,98 miliar dituding rusak dini.
Kabar burung ini terbang lebih cepat daripada aroma sampah itu sendiri, menciptakan polusi pikiran kolektif bagi publik.
Ironisnya, narasi kerusakan tersebut hanyalah bumbu penyedap bagi pecandu konten bombastis.
Penelusuran lapangan justru membuktikan sebaliknya. Proyek masih berproses sesuai standar teknis.
Masyarakat setempat pun merasa terbantu. “Ini pembangunan luar biasa. Berdampak bagi kami selaku warga,” kata warga setempat.
Itulah kontras dengan kegaduhan siber yang tercipta baru-baru ini. Inilah potret satire masa kini, saat imajinasi netizen jauh lebih kreatif melampaui realita konstruksi fisik.
Hoaks adalah junk food informasi. Menelan judul sensasional tanpa verifikasi sama berbahayanya dengan mengonsumsi makanan basi.
Dalam perspektif kesehatan, penyebaran berita bohong memicu stres kolektif serta gangguan kecemasan masif.
Literasi digital bukan lagi sekadar pilihan, melainkan vaksin utama menjaga imunitas nalar dari serangan virus disinformasi yang mematikan logika.
Disiplin membaca informasi menuntut langkah kuratif layaknya menjaga pola hidup sehat.
Publik wajib memeriksa kredibilitas sumber sebelum emosi tersulut. Hindari jebakan clickbait yang sering memanipulasi perasaan demi trafik semata.
Berpikir kritis menjadi resep mujarab tanyakan ketersediaan data, cek silang fakta, lalu saring sebelum berbagi.
Tanpa itu, kita hanya akan menjadi bagian dari barisan orang yang menertawakan kebodohan sendiri.
Fenomena Pontianak mengajarkan satu hal fundamental. Nilai proyek boleh saja menyentuh angka belasan miliar rupiah, namun harga kesehatan pikiran masyarakat jauh lebih tak ternilai.
Membangun infrastruktur fisik mungkin butuh waktu bulanan, tetapi membangun peradaban digital yang sehat memerlukan kecerdasan sepanjang hayat.
Jangan biarkan ruang siber kita menjadi tempat pembuangan sampah informasi yang membusukkan kewarasan publik. Selamatkan mental, pilih fakta, tolak hoaks.












