Jakarta, Infokalbar.com – Wakil Ketua Umum Pengurus Besar (PB) Mathla’ul Anwar yang juga Wartawan Senior Aat Surya Safaat menyatakan siap menjaga marwah (citra dan kehormatan) serta reputasi Mathla’ul Anwar sesuai misi trasformasi baru Ormas Islam tersebut, yakni “Mathla’ul Anwar Naik Level: Bangkit, Berdaya, dan Berpengaruh.”
“Bersama pengurus baru dibawah kepemimpinan Dr KH Jazuli Juwaini MA, kami siap menjadikan Mathla’ul Anwar semakin adaptif, progresif, dan relevan dalam menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan jati diri sebagai organisasi dakwah, pendidikan, dan sosial,” katanya dalam perbincangan dengan wartawan di Jakarta, Rabu (1/7/2026).
Sebelumnya, Mathla’ul Anwar melaksanakan Muktamar XXI di Serang Banten pada 12 April 2026. Dalam muktamar tersebut, Anggota DPR RI Dr KH Jazuli Juwaini MA resmi terpilih sebagai Ketua Umum PB Mathla’ul Anwar periode 2026-2031.
Dalam perkembangan selanjutnya, Wartawan Senior Aat Surya Safaat mendapatkan amanah sebagai salah satu Wakil Ketua Umum Bidang Organisasi, Litbang dan Kehumasan PB Mathla’ul Anwar.
Adapun pengukuhan dan pelantikan PB Mathla’ul Anwar masa bakti 2026-2031 dilaksanakan di Gedung Pakuan Bandung pada 20 Juni 2026. Acara itu juga dihadiri oleh Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dan Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein.
Aat lebih lanjut mengemukakan kesiapan dan komitmennya untuk turut memajukan Mathla’ul Anwar, Ormas Islam yang kini telah berusia lebih dari satu abad, di tengah kesibukannya selaku Direktur Lembaga Uji Kompetensi Wartawan (LUKW) PWI.
“Ini soal manajemen waktu. Insya Allah semuanya akan bisa dilaksanakan dengan baik,” kata putera Pandeglang Banten yang pada masa kuliahnya aktif di beberapa organisasi, termasuk Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat FISIP Universitas Airlangga Surabaya.
Saat menjadi Kepala Biro Kantor Berita ANTARA New York pada 1993-1998, Aat juga aktif selaku anggota Asosiasi Wartawan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNCA) dan New York Foreign Press Center (NFPC). Direktur Pemberitaan ANTARA 2016 itu saat ini mendapat amanah sebagai Wakil Sekretaris Bidang Infokom MUI dan Direktur Lembaga UKW PWI.
Aat lebih lanjut menyampaikan apresiasinya atas komitmen segenap Pengurus Besar, Majelis Amanah, Majelis Fatwa, Dewan Pembina serta Pengurus Wilayah, Pengurus Daerah dan Perguruan Mathla’ul Anwar dalam memajukan ummat di bidang dakwah, pendidikan, dan sosial.
Khusus di bidang dakwah, perubahan zaman mengharuskan Mathla’ul Anwar menghadirkan model dakwah yang lebih kontekstual dan inklusif. Dakwah tidak lagi terbatas pada mimbar dan majelis taklim, tetapi juga harus hadir di ruang digital, media sosial, dan berbagai platform komunikasi modern, dengan tetap menjunjung prinsip hikmah, moderasi, dan persatuan umat.
Sementara dalam bidang sosial dan pemberdayaan, menurut Aat, Mathla’ul Anwar dituntut memberikan solusi atas berbagai persoalan masyarakat, mulai dari kemiskinan, ketimpangan pendidikan, hingga tantangan kebangsaan. Kehadiran organisasi harus dirasakan secara nyata sebagai kekuatan yang mencerahkan dan memberdayakan.
Ia menyatakan keyakinannya bahwa Dr KH Jazuli Juwaeni selaku pimpinan baru Mathla’ul Anwar akan membawa Ormas Islam tersebut menjadi organisasi yang modern dalam manajemen dan profesional dalam tata kelola, namun tetap kokoh dalam nilai, etika, dan tradisi pengabdian kepada umat dan bangsa.
Khusus di bidang pendidikan, transformasi menuntut penguatan kualitas SDM, inovasi kurikulum, dan pemanfaatan teknologi digital tanpa meninggalkan pembentukan karakter dan akhlak.
Pendidikan dimaksud tidak cukup hanya menghasilkan manusia cerdas secara intelektual, tetapi juga melahirkan generasi yang memiliki integritas moral, spiritualitas yang kuat, dan kepedulian sosial yang tinggi.
Kini Mathla’ul Anwar telah memiliki pengurus wilayah di 30 provinsi, lebih dari 60 perguruan, dan ribuan madrasah yang tersebar di bergabai daerah di Indonesia, bahkan telah memiliki perguruan tinggi, yakni Universitas Mathla’ul Anwar (UNMA). UNMA saat ini merupakan salah satu perguruan tinggi swasta terkemuka di Provinsi Banten.
Mathla’ul Anwar didirikan pada 10 Juli 1916, bertepatan dengan 10 Syawal 1334 Hijriah oleh KH E Mohammad Yasin, KH Tb Mohammad Sholeh, dan KH Mas Abdurrahman serta dibantu oleh sejumlah ulama di daerah Menes, Kabupaten Pandeglang.
Ormas Islam tersebut didirikan berselang empat tahun setelah berdirinya Muhammadiyah serta sepuluh tahun lebih awal dibanding Nahdlatul Ulama (NU). Muhammadiyah dirikan pada 18 Nopember 1912 di Kauman Yogyakarta oleh KH Ahmad Dahlan dan NU pada 31 Januari 1926 di Surabaya Jawa Timur oleh KH Hasyim Asyari.
Mahtla’ul Anwar itu sendiri memiliki arti sebagai tempat terbitnya cahaya, dimaksudkan sebagai upaya pembebasan umat dari kebodohan dan keterbelakangan melalui pengembangan pendidikan, dakwah, dan sosial kemasyarakatan.












