KUBU RAYA, Infokalbar.com – APBD Kubu Raya 2025 tidak bermanfaat bagi masyarakat Desa Ambawang, Kecamatan Kubu, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. Pembangunan dendungan dan irigasi desa itu menelan anggaran Rp1,7 miliar.
Proyek digelontorkan Pemerintah Kabupaten Kubu Raya dengan janji mulia mengairi sawah dan menyediakan air bersih. Faktanya, delapan bulan setelah selesai, bangunan tak bisa dimanfaatkan.
“Pembangunannya asal-asalan. Ini kesalahan dinas dan kontraktor yang mau ambil keuntungan lebih besar,” kata warga setempat.
“Padahal pembangunan tersebut baru selesai 8 bulan, ternyata udah tidak bisa dimanfaatkan oleh warga masyarakat Desa Ambawang pada umumnya,” kata warga lain.
Rakyat Sangat Menderita
Desa Ambawang sangat membutuhkan pembangunan. Apalagi sekarang, masyarakat Kecamatan Kubu bergantung pada air bersih. Bencana karhutla yang melanda membuat warga makin sulit mendapat air layak konsumsi.
“Tentunya desa-desa di wilayah Kecamatan Kubu sangat butuh air bersih dikarenakan adanya bencana karhutla yang di mana warga masyarakat merasakan,” ujar warga.
“Betapa sulitnya mendapatkan air bersih buat minum. Tentunya harapan warga masyarakat kepada pihak Pemerintah Kubu Raya mengambil tindakan secepatnya buat memperbaiki bangunan yang sekarang udah rusak, tidak dimanfaatkan oleh masyarakat,” kata warga lainnya.
Tuntutan Perbaikan Segera
Warga berharap pemerintah bertindak cepat. Mereka menegaskan laporan ini bukan mengada-ada. Jika pihak pemerintah Kubu Raya menyebut laporan ini hoaks, silakan.
“Cek kelapangan. Mungkin sewaktu pembangunan tersebut, dari pihak yang berkompeten tidak sering datang ke lapangan. Hanya mendapat laporan dari pihak kontraktor aja, atau ada kerja samanya,” kata warga.
“Jadi dalam hal ini, warga masyarakat Desa Ambawang segera mungkin supaya dari pemerintahan Kubu Raya ambil tindakan kepada kontraktor supaya diperbaiki lagi,” tegas warga.
Slogan Kubu Raya Melaju nyatanya jauh panggang dari api. Proyek mangkrak, anggaran bocor, warga sengsara.
Bupati Kubu Raya Sujiwo diminta turun gunung, bukan sibuk pencitraan di media sosial.
Jika dibiarkan, bukan mustahil Kubu Raya hanya melaju dalam baliho, tapi berhenti di lapangan.
Bupati Sujiwo tidokeh? Katanya mengaku sebagai pemimpin pelayan rakyat. Malah sebaliknya. Bobo nyenyak.












