ENTIKONG, Infokalbar.com – Ruangan itu hening. Seolah menahan napas. Sorot mata Kapolres Sanggau, AKBP Sudarsono, mengiris udara bak pedang terhunus.
Bibirnya bergerak pelan, komat-kamit, seperti sedang merapal mantra kebijaksanaan.
Di hadapannya, puluhan jurnalis Kalimantan Barat duduk tegak, menyerap setiap kata terucap sebuah pesan tentang sinergi.
Inilah tentang kolaborasi antara pena dan lencana, di tengah gemuruh ekonomi yang morat-marit setiap harinya tidak menentu.
“Jurnalisme bukan sekadar mencari berita,” ujar Sudarsono melalui perwakilannya, Kasi Humas Polres Sanggau, Iptu Keken Sukendar. “Ia adalah nafas demokrasi, pilar keempat yang menjaganya agar tak roboh.”
Acara Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) PWI Kalbar, Sabtu 28 Juni 2025, di Gedung Nusantara PLBN Entikong, bukan sekadar ritual formal.
Ia adalah pertemuan dua dunia yang sering dianggap berseberangan: kepolisian dan pers.
Tapi hari itu, di bawah langit kelam tantangan ekonomi, keduanya bersepakat untuk berjalan beriringan.
Antara Kontrol Sosial dan Mitra Strategis Polri
Plt Ketua PWI Kalbar, Wawan Suwandi, tahu betul betapa beratnya beban yang dipikul rekan-rekannya.
Di era di mana informasi bergerak secepat kilat, jurnalis tak hanya dituntut cepat, tapi juga cermat.
“Karya tulis yang berkualitas bukanlah produk instan,” tegasnya. “Ia lahir dari riset mendalam, integritas, dan keberpihakan pada kebenaran.”
Sudarsono melalui perwakilannya, Kasi Humas Polres Sanggau, Iptu Keken Sukendar mengangguk setuju.
Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa Polri tak membutuhkan wartawan yang hanya menjadi corong kekuasaan.
“Kami butuh mitra yang kritis tapi konstruktif,” ujarnya. “Kontrol sosial Anda adalah oksigen bagi transparansi kami.”
Sinergi ini bukan tanpa alasan. Di tengah maraknya hoaks dan disinformasi, kolaborasi antara polisi dan pers menjadi benteng terakhir untuk memastikan masyarakat mendapat informasi yang akurat.
“Ketika ekonomi terjepit, kepercayaan adalah mata uang yang paling berharga,” ucapnya mengingatkan.
Dari Entikong Untuk Indonesia Membangun Jurnalisme Berdampak
Gedung Nusantara PLBN Entikong menjadi saksi bisu sebuah komitmen. OKK PWI Kalbar bukan sekadar pelatihan, tapi gerakan untuk melahirkan jurnalis-jurnalis pejuang.
Mereka yang tak hanya mengejar klik, tapi juga dampak. Mereka yang berani menyuarakan kebenaran, meski harus berhadapan dengan badai.
Polres Sanggau pun berjanji membuka pintu lebar-lebar. “Laporkan apa yang salah, apresiasi apa yang benar,” kata Iptu Keken.
“Kami siap berdialog, karena hanya dengan kerja samalah kita bisa membangun negeri ini,” dia kembali mengingatkan.
Ketika Pena dan Lencana Menari Dalam Harmoni
Acara itu berakhir, tapi pesannya menggema. Di pelataran Gedung Nusantara, para peserta berfoto bersama, senyum mengembang.
Ada harapan baru di mata mereka harapan akan jurnalisme yang tak hanya memberitakan, tapi juga memberdayakan.
Seperti bisikan angin di antara pepohonan Kalimantan, ia mengingatkan: “Jadilah wartawan yang tak hanya menulis sejarah, tapi juga mengubahnya.”
Dan di tengah ekonomi yang serba sulit, pesan itu terasa seperti pelita.
Inilah kisah tentang dua pilar bangsa yang memilih untuk bersatu, bukan bertarung.
Di atas panggung Gedung Nusantara, mereka membuktikan bahwa ketika pena dan lencana bersinergi, yang lahir bukan hanya berita, tapi sejarah. (ARP)












